Rastranews.id – Perayaan Idulfitri identik dengan hidangan lezat berbahan dasar daging, seperti rendang, opor ayam, hingga sate. Tradisi ini menjadi momen kebersamaan yang dinanti-nanti.
Namun, di balik kenikmatan tersebut, konsumsi daging secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan jika tidak dikontrol.
Diingatkan bahwa daging, terutama daging merah, mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih, hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, hingga gangguan jantung.
Selain itu, pola makan yang berubah drastis setelah sebulan berpuasa juga dapat membuat sistem pencernaan “kaget”.
Masyarakat yang sebelumnya menahan makan dan minum selama Ramadan cenderung “balas dendam” dengan mengonsumsi makanan dalam jumlah besar saat Idulfitri, termasuk daging berlemak.
Kelebihan konsumsi daging juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti sembelit, perut kembung, dan rasa tidak nyaman di lambung.
Tidak hanya itu, asupan protein hewani yang berlebihan dapat membebani kerja ginjal, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
Di sisi lain, makanan khas Lebaran umumnya juga dimasak dengan santan kental yang tinggi kalori. Kombinasi antara daging dan santan dapat meningkatkan asupan lemak secara signifikan dalam tubuh.
Masyarakat diimbau untuk tetap menikmati hidangan Idulfitri secara bijak dengan menjaga porsi makan dan menyeimbangkannya dengan konsumsi sayur serta buah.
Aktivitas fisik ringan juga dianjurkan untuk membantu menjaga kebugaran tubuh setelah perayaan. Dengan pola makan yang seimbang, momen Idulfitri tetap dapat dirayakan dengan sehat dan penuh kebahagiaan.(JY)

