Rastranews.id, Palu — Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido menyoroti masih terbatasnya jumlah dokter spesialis patologi klinik di daerahnya. Kondisi ini dinilai berpengaruh langsung terhadap mutu layanan laboratorium dan ketepatan diagnosis pasien di rumah sakit.
Hal tersebut disampaikan Reny saat membuka Workshop Komprehensif Optimalisasi Teknik Mikroskop dan Manajemen Perawatan Rutin di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Reny, kemampuan membaca preparat melalui mikroskop merupakan fondasi penting dalam praktik kedokteran, khususnya patologi klinik. Kesalahan teknis, baik dalam penggunaan maupun perawatan alat laboratorium, berpotensi menimbulkan kekeliruan diagnosis yang berdampak pada keselamatan pasien.
“Pemeriksaan laboratorium adalah dasar penegakan diagnosis. Jika mikroskop tidak digunakan dan dirawat dengan benar, hasil pemeriksaan bisa bias dan merugikan pasien,” ujar Reny.
Ia menegaskan, penguasaan teknik mikroskop—mulai dari pembesaran standar hingga penggunaan lensa imersi—harus dibarengi dengan pemahaman manajemen perawatan alat. Hal ini penting untuk menjaga akurasi pemeriksaan dan usia pakai perangkat laboratorium.
Dalam kesempatan tersebut, Reny mengungkapkan bahwa Sulawesi Tengah saat ini baru memiliki sekitar 16 dokter spesialis patologi klinik yang tersebar di 12 kabupaten dan satu kota. Jumlah tersebut dinilai belum ideal, mengingat masih ada rumah sakit yang belum memiliki dokter spesialis patologi klinik secara permanen.
“Ke depan, setiap daerah idealnya tidak hanya memiliki satu dokter spesialis patologi klinik. Kita butuh dua atau tiga orang agar layanan bisa berjalan optimal dan berkelanjutan,” katanya.
Reny juga mendorong dokter umum serta tenaga analis kesehatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus sejalan dengan peningkatan mutu laboratorium kesehatan.
Ia mengingatkan bahwa kualitas laboratorium sangat menentukan tingkat kepercayaan tenaga klinis terhadap hasil pemeriksaan. Selain itu, Reny menekankan pentingnya tahapan pra-analitik, analitik, dan pasca-analitik, yang kerap menjadi titik rawan kesalahan dalam pemeriksaan laboratorium.
Workshop tersebut menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya dr. Haerani Harun, M.Kes., Sp.PK, Ivan Gommo, SKM., M.Pd, serta Moh. Bagus Fatihul Ihsan. Para pemateri membahas teknik optimal penggunaan mikroskop, perawatan alat laboratorium, hingga strategi peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berharap kompetensi tenaga kesehatan terus meningkat dan layanan laboratorium berkualitas dapat merata hingga ke seluruh wilayah.

