Rastranews.id – Dalam beberapa tahun terakhir, tren slow living atau hidup dengan ritme yang lebih tenang semakin diminati oleh anak muda Indonesia.
Gaya hidup ini muncul sebagai bentuk kritik terhadap budaya produktivitas berlebihan yang seringkali memicu stres, kelelahan mental, dan burn-out.
Fenomena ini dapat dilihat dari meningkatnya konten bertema slow living di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Banyak anak muda membagikan rutinitas sederhana seperti merapikan kamar, menikmati sarapan perlahan, membaca buku di taman, hingga melakukan journaling.
Konten-konten tersebut mendapatkan respons positif. Karena, dianggap memberi inspirasi untuk lebih menghargai waktu dan diri sendiri.
Psikolog klinis, Rina Dewantara, menjelaskan bahwa slow living bukan berarti malas atau tidak produktif, tetapi sebuah cara untuk memilih aktivitas yang benar-benar bermakna.
“Ini tentang memberi ruang untuk diri sendiri, mengatur ulang prioritas, dan memastikan bahwa keseharian tidak hanya penuh aktivitas, tetapi juga penuh kualitas,” ujarnya dikutip, Sabtu (22/11/2025).
Tidak hanya di kehidupan pribadi, tren ini turut memengaruhi industri gaya hidup. Kafe berkonsep minimalis dan tenang semakin mudah ditemukan.
Brand lokal mulai menghadirkan produk mindfulness seperti lilin aromaterapi dan buku harian, sementara beberapa komunitas mengadakan kelas meditasi dan yoga di ruang terbuka.
Meski demikian, pakar mengingatkan bahw slow living tidak harus mengikuti standar tertentu.
“Setiap orang punya ritme masing-masing. Yang penting adalah menemukan keseimbangan yang membuat hidup terasa lebih ringan,” tambah Rina.
Dengan semakin besarnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, tren slow living diperkirakan akan terus berkembang sebagai alternatif gaya hidup modern yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.(JY)


