Operasi bedah tulang dan debridement, bekerja bersama dokter ortopedi Unhas; Stabilisasi pasien gawat darurat, termasuk kasus infeksi luka berat dan komplikasi pascabanjir.

Kendala distribusi obat dan terputusnya akses jalan membuat peran tim relawan semakin vital dalam menjaga layanan tetap berjalan.

“Kehadiran tim kami menjadi napas tambahan bagi rumah sakit,” ujar dr. Ilham.

Selain mobile clinic dan layanan RSUD, tim juga melaksanakan kunjungan rumah ke warga yang tidak mampu datang ke posko kesehatan.

Banyak di antaranya adalah lansia, pasien dengan penyakit kronis, hingga ibu menyusui yang membutuhkan pendampingan obat.

“Kami juga melakukan kunjungan rumah ke beberapa warga yang tidak bisa ke RS ataupun ke poskes,” jelasnya.

Mereka turut menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap konsumsi dan paket alat mandi kepada penyintas yang tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Kondisi di lokasi tidak mudah: tenda berdesakan, pakaian basah dijemur seadanya, air bersih sangat terbatas, dan risiko penyebaran penyakit meningkat.

Bagi dr. Ilham, misi kemanusiaan tersebut menegaskan bahwa batas administratif provinsi hilang ketika menghadapi penderitaan warga yang kelelahan.

Ia juga menyaksikan solidaritas yang kuat antara tenaga medis Sulsel, dokter muda Aceh, relawan kampung, hingga pemuda lokal yang membantu mengatur alur pasien.