Empat hari penuh, tim bergerak dari Desa Beringin, Manesah Balek, Teupin Pukat, hingga Seunong.

Setiap titik menunjukkan kebutuhan medis yang tinggi: ISPA, penyakit kulit, luka infeksi, dan diare, terutama pada anak-anak.

“Ada yang sudah beberapa hari belum mandi karena air bersih tidak ada,” ungkap dr. Ilham. Rata-rata 100–150 pasien ditangani setiap hari.

Di lapangan, dr. Ilham tidak bekerja sendirian. Ia ditemani tim spesialis yang terdiri dari: dr. Pasrah Kitta, Sp.An (Dokter Spesialis Anestesi); dr. M. Alief Akbar, Sp.A (Dokter Spesialis Anak) dan H. Arsyad, S.Kep., Ns. (Perawat Penata Anestesi) didukung tim medis dan relawan lainnya.

Formasi ini memungkinkan tim memberikan pelayanan mobile clinic, kunjungan rumah kepada warga yang tidak mampu datang ke posko, serta membantu layanan operasi di rumah sakit.

Banjir besar tidak hanya merusak infrastruktur dan mengguncang aktivitas ekonomi, tetapi juga melumpuhkan layanan kesehatan di Pidie Jaya.

Banyak tenaga kesehatan RSUD turut menjadi korban sehingga mereka harus membagi waktu antara menjaga pasien dan mengurus keluarga.

Dalam kondisi ini, tim medis dari Sulsel dan Unhas menjadi penguat utama layanan rumah sakit.

Mereka memperkuat IGD, instalasi perawatan, hingga ruang operasi yang mengalami kekurangan personel.

Di RSUD Pidie Jaya, tim Pemprov Sulsel menjalankan sejumlah pelayanan kritis, di antaranya: Operasi caesar darurat, kolaborasi dokter anestesi Pemprov dengan dokter kandungan dan dokter anak setempat.