Rastranews.id, Makassar– Dua ikon kota, Taman Macan dan Taman Pattimura, bersiap menjalani transformasi besar-besaran.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin atau Appi baru saja memimpin rapat koordinasi untuk mengubah kedua kawasan tersebut menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) terpadu yang modern namun tetap mengakar pada budaya lokal.

​Dalam rapat yang digelar di Balai Kota Makassar, Rabu (17/12/2025), Appi menggandeng mitra perencana H2O Farm Indonesia untuk mematangkan konsep revitalisasi yang ambisius namun ramah lingkungan.

Salah satu poin menarik dalam arahan Wali Kota Munafri Arifuddin adalah keputusannya untuk tidak membangun skybridge (jembatan layang).

Alih-alih jembatan, ia memilih untuk menggabungkan langsung kedua taman dengan mengatur ulang sirkulasi jalan di antaranya.

​”Kita tidak usah pakai skybridge. Kita gabungkan langsung dengan mengambil jalannya, supaya luas tamannya lebih besar dan menyatu,” tegas Appi.

Langkah ini diambil agar alur pergerakan pengunjung terasa lebih natural dan luas RTH menjadi lebih optimal.

​​Sadar akan karakter masyarakat yang menyukai akses instan, Appi menekankan pentingnya kantong parkir yang jelas.

Ia membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk membangun gedung parkir (building parking) di sekitar Jalan Pattimura agar kawasan taman tetap rapi.

​Selain itu, desain Taman Macan nantinya akan dibuat “mengalir” dan menyatu secara visual dengan gedung Mal Pelayanan Publik (MPP) yang berada tepat di depannya.

Saat pagar konstruksi MPP dibuka pada tahun 2026, taman ini diharapkan menjadi ruang tunggu terbuka yang paling nyaman bagi warga yang sedang mengurus administrasi.

​Founder H2O Farm, Benjamin Martinez, memaparkan bahwa penataan ini tidak hanya mengejar estetika. Mengusung tema Culture–Nature–Nurture, taman ini dirancang untuk menyatukan identitas budaya Makassar dengan kelestarian alam.

​“Konsep ini tidak sekadar menghadirkan taman sebagai ruang rekreasi, tetapi sebagai ruang hidup yang berkelanjutan dan memberi pengalaman yang menenangkan sekaligus produktif,” ujar Benjamin.

​Menariknya, revitalisasi ini menggunakan pendekatan lanskap organik. Artinya, pembangunan akan mengikuti kontur tanah dan keberadaan pohon yang sudah ada. Benjamin menegaskan: tidak akan ada penebangan pohon eksisting. Justru, vegetasi yang ada akan diperkuat sebagai paru-paru kota.

​Kawasan ini nantinya akan dibagi menjadi beberapa zona strategis untuk memenuhi berbagai kebutuhan warga:

  • ​Zona Sosial: Area duduk, multifunction hall, dan area komersial terbatas.
  • ​Zona Aktif: Outdoor gym dan area bermain anak yang aman.
  • ​Zona Monumental & Kontemplatif: Area patung dan amphiteater untuk kegiatan seni budaya.

Revitalisasi ini kini memasuki tahap finalisasi desain dan penyesuaian regulasi sebelum mulai dikerjakan. Makassar selangkah lagi menuju kota dengan ruang publik yang lebih manusiawi dan hijau. (MU)