Rastranews.id, Makassar — Keluhan soal kemacetan di Makassar kini sulit dibantah dengan alasan klasik.
Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) justru menunjukkan akar persoalan yang jauh lebih besar: ledakan jumlah kendaraan di Sulawesi Selatan.
Dikutip dari BPS Sulsel melalui akun isntagramnya, Senin (22/12/2025), dalam Statistik Transportasi Darat 2024, BPS mencatat lebih dari 5,1 juta unit kendaraan bermotor beroperasi di Sulsel.
Angka itu terdiri atas 634.062 mobil dan 4.507.930 sepeda motor, tertinggi di seluruh Pulau Sulawesi.
Artinya, pertumbuhan kendaraan sepanjang 2025 dan seterusnya yang dipicu oleh peningkatan daya beli, kemudahan kredit, serta urbanisasi belum masuk dalam perhitungan resmi.
Dengan tren tersebut, jumlah kendaraan yang beredar di lapangan diyakini jauh lebih besar.
Makassar, sebagai pusat pergerakan ekonomi dan layanan publik kawasan timur, otomatis menjadi penampung utama lonjakan kendaraan tersebut.
Setiap hari, ribuan kendaraan dari daerah penyangga masuk dan keluar kota, menekan kapasitas jalan yang nyaris tak bertambah signifikan.
Fakta ini menjawab pertanyaan publik: mengapa Makassar nyaris tak pernah lepas dari macet, bahkan di luar jam sibuk.
Bukan hanya karena lampu lalu lintas atau proyek jalan, melainkan karena beban mobilitas yang sudah melampaui daya tampung kota.
Jika dibandingkan, provinsi lain di Sulawesi seperti Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara berada jauh di bawah Sulsel dalam jumlah kendaraan.
Namun ironi justru terjadi di Makassar, kota yang harus menanggung efek domino dari dominasi kendaraan provinsi.
Tanpa pembatasan pertumbuhan kendaraan dan terobosan serius pada transportasi publik, Makassar berisiko berubah dari kota metropolitan menjadi kota yang terjebak dalam kemacetan permanen.
Data sudah berbicara, dan jalanan Makassar menjadi saksi paling nyata. (MU)

