Rastranews.id, Makassar – Bantuan sembako yang tak bisa diwakilkan, membuat seorang nenek berusia 85 tahun di Makassar harus digotong warga ke kantor kelurahan.
Lansia bernama Wahbah itu, terpaksa dibawa warga menggunakan becak motor (bentor) ke kantor kelurahan demi memperoleh bantuan sembako pemerintah.
Nenek Wahbah merupakan warga Jalan Inspeksi Kanal Monginsidi Baru, Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Peristiwa ini menjadi perhatian, setelah sejumlah video yang memperlihatkan warga membawa nenek Wahbah ke kantor kelurahan, beredar luas di media sosial.
Warga sekitar mengaku membawa nenek Wahbah karena bantuan sembako tidak diberikan jika tidak diambil langsung oleh yang bersangkutan. Sementara, nenek Wahbah disebut sudah lumpuh akibat faktor usia dan kondisi kesehatan yang menurun.
Sehari-hari nenek Wahbah hanya tampak terbaring lemah di rumahnya yang berada di gang sempit dengan luas sekitar 3×8 meter persegi.
Anak menantu nenek Wahbah, Emmi (65), mengatakan upaya pengambilan bantuan sebelumnya telah beberapa kali dilakukan oleh keluarga dan warga dengan membawa kartu tanda penduduk (KTP) milik nenek Wahbah.
Namun, permohonan tersebut ditolak pihak kelurahan dengan alasan bantuan tidak dapat diwakilkan.
“Beberapa kali, adik saya, tetangga, warga disini yang sudah bawa KTP-nya, tapi di tolak lagi. Alasannya tidak bisa diwakili katanya ambil sembako,” kata Emmi, Selasa (16/12/2025) malam.
Emmi mengungkapkan dirinya juga sempat datang langsung ke kantor kelurahan untuk mempertanyakan kemungkinan pengambilan bantuan secara perwakilan.
Namun, penjelasan mengenai kondisi nenek Wahbah yang baru keluar dari rumah sakit dan sudah tidak mampu berjalan tidak mengubah keputusan petugas.
“Saya tanya apakah bisa diwakilkan? kenapa dipermainkan, tetangganya mamakku sudah datang tidak dikasih, padahal sudah bawa KTP,” katanya.
“Petugas kelurahan bilang harus yang bersangkutan langsung, jadi saya bilang yang bersangkutan ini baru keluar rumah sakit, sudah tidak bisa jalan,” imbuh Emmi.
Selain itu, petugas kelurahan juga sempat mempertanyakan kelengkapan dokumen kartu keluarga (KK) milik nenek Wahbah. Emmi menegaskan bahwa persoalan utama bukan kemampuan membeli beras, melainkan hak nenek Wahbah sebagai penerima bantuan.
“Ini kita bukan tidak bisa beli, cuma haknya ini orang tua dicari. Kenapa ini kasian, karena ini orang tua sudah tidak mampu jalan disuruh harus datang. Jadi ada yang bilang staf kelurahan katanya kartu keluarga (KK)-nya bermasalah,” ujar Emmi.
Karena bantuan tak kunjung diberikan, warga sekitar akhirnya berinisiatif membawa nenek Wahbah sendiri ke kantor kelurahan menggunakan bentor, meski harus dilakukan di tengah hujan.
“Masyarakat disini inisiatif karena melihat orang-orang kelurahan ini tidak beres mereka kompak bawa ibu kami ini naik bentor,” ucap Emmi.
Setibanya di kantor kelurahan, bantuan sembako pun langsung diserahkan kepada nenek Wahbah. Bantuan tersebut terdiri dari dua karung beras dengan total berat 20 kilogram serta empat liter minyak goreng.
Emmi menambahkan, setelah peristiwa tersebut ramai diperbincangkan, pihak kelurahan menyampaikan rencana untuk melakukan kunjungan ke rumah nenek Wahbah. Namun menurutnya, rencana tersebut disampaikan setelah nenek Wahbah terlanjur dibawa ke kantor kelurahan.
“Pak Lurah bilang nanti kita kunjungan ke sana. Saya balas, pak sudah heboh begini baru mau kunjungan. Sudah datang ini orang sakit karena bapak tidak percaya dia sakit,” tukasnya.(JY)

