RastraNews.id, Makassar— PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi di wilayah Indonesia Timur dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan petani dalam 4 hingga 5 minggu ke depan.
Hal tersebut disampaikan Regional CEO 4 Pupuk Indonesia, Wisnu Ramadhani dalam kegiatan Media Gathering Regional IV yang digelar di Makassar, Rabu (22/4/2026).
Wisnu mengungkapkan, hingga 20 April 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi secara nasional telah mencapai 2,85 juta ton atau sekitar 29 persen dari total alokasi pemerintah sebesar 9,8 juta ton.
Sementara untuk wilayah Indonesia Timur (Regional 4), realisasi penyaluran telah mencapai sekitar 350 ribu ton atau 21 persen dari total alokasi sebesar 1,69 juta ton.
“Tren alokasi pupuk di Indonesia Timur terus meningkat setiap tahun, bahkan naik lebih dari 10 persen,” ujarnya.
Data menunjukkan, alokasi pupuk di wilayah Indonesia Timur pada 2024 sebesar 1,426 juta ton, meningkat menjadi 1,456 juta ton pada 2025, dan kembali naik menjadi 1,689 juta ton pada 2026. Adapun target realisasi tahun ini dipatok di kisaran 80 hingga 85 persen.
Dari sisi ketersediaan, stok pupuk di Indonesia Timur dinyatakan berada di atas batas aman (safety stock). Untuk pupuk Urea, stok mencapai 46 ribu ton, sementara NPK sebesar 49.521 ton.
Selain itu, stok juga tersebar di berbagai lini distribusi, mulai dari gudang produsen (lini III) sebesar 218 ribu ton, distributor sekitar 6.280 ton dari 107 pelaku usaha distribusi, hingga kios pengecer yang mencapai sekitar 66 ribu ton dari 2.207 kios.
“Ketersediaan ini memastikan kebutuhan petani tetap terpenuhi, terutama memasuki musim tanam,” jelasnya.
Sulsel Jadi Penopang Distribusi
Senior Manager Regional 4 Pupuk Indonesia, Sukodim menambahkan, Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah dengan kontribusi stok terbesar di Indonesia Timur.
Saat ini, stok pupuk di Sulsel mencapai lebih dari 120 ribu ton, atau sekitar 60–70 persen dari total stok di 14 provinsi wilayah timur Indonesia.
Rinciannya, stok di tingkat kios (pengecer) mencapai 42.744 ton, sementara di gudang distributor sekitar 4.200 ton. Jumlah kios resmi yang melayani petani di Sulsel tercatat sebanyak 1.179 unit.
“Stok ini dipastikan aman untuk kebutuhan 4 hingga 5 minggu ke depan,” katanya.
Dalam menjaga tata kelola distribusi, Pupuk Indonesia menerapkan pengawasan ketat melalui audit internal dan eksternal oleh BPK dan BPKP.
Selain itu, tindakan tegas juga diberikan terhadap pelanggaran. Di Sulawesi Selatan, tercatat dua kios telah dicabut izinnya karena melakukan pelanggaran berat.
“Jika ditemukan pelanggaran, mulai dari sanksi administratif hingga pidana akan diterapkan,” tegasnya.
Dalam sesi diskusi, muncul laporan adanya harga pupuk di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Di Kabupaten Gowa, harga pupuk Urea dilaporkan mencapai Rp110 ribu per sak, lebih tinggi dari HET sebesar Rp90 ribu.
Menanggapi hal itu, manajemen Pupuk Indonesia memastikan akan menindaklanjuti melalui tim pengawasan di lapangan.
“Kami akan cek dan pastikan distribusi berjalan sesuai aturan, termasuk harga di tingkat kios,” ujar Sukodim.
Pupuk Indonesia juga membuka peluang pembangunan pabrik pupuk di wilayah Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan, dengan syarat ketersediaan bahan baku seperti gas alam.
Selain itu, pembangunan pabrik pupuk organik dinilai potensial mengingat ketersediaan bahan baku dari sektor peternakan.
“Jika pabrik dibangun di dekat wilayah distribusi, biaya logistik akan jauh lebih efisien,” jelas Wisnu.
Di sisi lain, pemerintah juga telah menugaskan Pupuk Indonesia untuk membangun pabrik pupuk di Fakfak, Papua, yang didukung cadangan gas besar di Teluk Bintuni.
Dengan berbagai upaya tersebut, Pupuk Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga ketahanan pupuk nasional, khususnya di wilayah Indonesia Timur, guna mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. (*)

