Rastranews.id, Palu — Status Bandara Mutiara SIS Aljufri sebagai bandara internasional tak hanya soal seremoni dan seremoni pra-peluncuran. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah kini menghadapi tantangan nyata: menjaga tingkat keterisian penumpang agar rute internasional Palu–Guangzhou tidak sekadar bertahan sesaat.

Hal itu ditegaskan Wakil Gubernur Sulteng Reny A. Lamadjido saat membuka Focus Group Discussion (FGD) dan pre-launching bandara internasional di Palu, Kamis (12/2/2026). Penerbangan perdana rute langsung ke Guangzhou, Tiongkok, dijadwalkan mulai April 2026.

“Kalau ingin status ini bertahan, penerbangannya harus konsisten penuh. Semua pihak harus bergerak bersama,” ujar Reny.

Menurutnya, keberhasilan sebuah rute internasional sangat ditentukan oleh load factor atau tingkat okupansi kursi. Tanpa dukungan penumpang yang stabil, maskapai berpotensi melakukan evaluasi bahkan menghentikan layanan.

Pemprov menilai pembukaan rute langsung ke Tiongkok menjadi peluang memperluas akses perdagangan dan pariwisata. Namun peluang tersebut juga diiringi pekerjaan rumah, mulai dari promosi destinasi, kesiapan SDM, hingga kualitas layanan bandara dan industri pendukung.

Forum FGD yang digelar melibatkan otoritas bandara, DPRD, pelaku usaha, hingga akademisi. Pemerintah daerah mendorong kolaborasi lintas sektor agar pembukaan akses global ini berdampak nyata pada pertumbuhan ekonomi.

Reny menyebut status internasional merupakan momentum penting bagi Sulawesi Tengah untuk naik kelas dalam konektivitas udara. Meski demikian, ujian sesungguhnya baru dimulai setelah penerbangan perdana mengudara.

Bagi Sulteng, mempertahankan rute internasional bukan hanya soal membuka jalur baru, tetapi memastikan arus penumpang, wisatawan, dan pelaku usaha benar-benar mengisi kursi pesawat secara berkelanjutan.