Rastranews.id, Makassar – Pembimbingan jamaah lanjut usia (lansia) menjadi salah satu fokus utama dalam Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan II (Mandiri) yang digelar di Makassar.
Materi tersebut dinilai krusial mengingat meningkatnya jumlah jamaah lansia yang membutuhkan pendampingan khusus saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Prof. Abdul Rasyid Masri, mengatakan perhatian terhadap jamaah lansia sebenarnya sudah menjadi concern sejak kementerian masih berada di bawah Kementerian Agama.
Hal itu kemudian diperkuat dengan menjadikan pembimbingan lansia sebagai materi wajib dalam sertifikasi.
“Perhatian khusus itu bukan lagi sekarang, tapi sejak di Kementerian Agama. Itulah sebabnya ada materi wajib yang dibawakan kemarin, yaitu pembimbingan jamaah lansia,” ujar Prof. Abdul Rasyid, Rabu malam (17/12/2025).
Menurutnya, pembimbing haji dituntut memiliki insting pelayanan khusus dalam mendampingi jamaah lanjut usia agar mereka tetap dapat menjalankan ibadah dengan baik. Tantangan terbesar yang dihadapi jamaah lansia, kata dia, adalah faktor kesehatan.
“Kalau lansia itu tantangan terbesarnya kesehatan. Kadang seleksinya tidak begitu objektif dan tidak ketat, sehingga ada satu-dua orang yang sebenarnya tidak layak secara kesehatan, tapi dipaksakan,” jelasnya.
Ia mengakui, kondisi tersebut kerap menimbulkan persoalan di lapangan. Namun, dalam praktiknya, pertimbangan kemanusiaan tetap menjadi faktor penting, terutama jika jamaah sudah terlanjur berangkat dan didampingi pembimbing atau pendamping khusus.
“Kalau dilihat langsung sebenarnya tidak layak, tapi ada sisi kemanusiaan. Apalagi kalau sudah dikawal pembimbingnya, maka mau tidak mau tetap diberikan ruang,” katanya.
Selain aspek kesehatan, peserta sertifikasi juga dibekali pemahaman psikologi lansia. Materi ini bertujuan agar pembimbing mampu mengenali perubahan perilaku dan kondisi mental jamaah sejak dini.
“Psikologi lansia juga penting. Jadi jangan tunggu sakit betul. Tindakan preventif itu jauh lebih efektif. Baru bersin saja sudah bisa ditahu, ini ada gejala apa,” ungkap Prof. Abdul Rasyid.
Tak hanya itu, materi psikologi komunikasi massa turut diberikan untuk membekali pembimbing dalam menghadapi dinamika emosional jamaah di Tanah Suci, yang kerap dipicu oleh kelelahan, kecemburuan, atau tekanan situasional.
“Kita tahu di Tanah Suci emosi orang mudah sekali naik. Sedikit gesekan saja bisa jadi masalah. Karena itu pemahaman kejiwaan jamaah sangat penting,” ujarnya.
Secara keseluruhan, terdapat 24 materi yang diberikan dalam sertifikasi tersebut, termasuk pembimbingan khusus jamaah lansia.
Prof. Rasyid menegaskan, pembekalan ini diharapkan mampu mencetak pembimbing haji yang lebih peka, profesional, dan siap menghadapi kompleksitas jamaah di lapangan.(JY)

