Rastranews.id – Pertanyaan tentang seberapa sering laki-laki dan perempuan “idealnya” mengalami orgasme kerap muncul dalam diskusi kesehatan seksual. Namun, para ahli menegaskan bahwa orgasme bukan soal angka, melainkan soal kualitas relasi, kondisi fisik, dan kesehatan mental masing-masing individu.

Secara medis, tidak ada standar baku mengenai berapa kali laki-laki atau perempuan harus mengalami orgasme dalam sehari, seminggu, atau sebulan. Setiap tubuh memiliki respons seksual yang berbeda, dipengaruhi oleh usia, hormon, tingkat stres, gaya hidup, hingga kualitas komunikasi dengan pasangan.

Dokter dan seksolog sepakat bahwa kepuasan seksual tidak dapat diukur hanya dari frekuensi orgasme.

Perbedaan Respons Laki-Laki dan Perempuan

Laki-laki umumnya mengalami orgasme bersamaan dengan ejakulasi dan memiliki fase refrakter, yaitu masa jeda sebelum bisa orgasme kembali. Waktu-waktu jeda ini bervariasi. Mulai dari beberapa menit hingga berjam-jam, bahkan hari, tergantung usia dan kondisi kesehatan.

Perempuan tidak selalu memiliki fase refrakter yang kaku. Sebagian perempuan dapat mengalami orgasme berulang (multiple orgasm), sementara yang lain membutuhkan waktu atau stimulasi tertentu. Keduanya sama-sama normal.

Yang Lebih Penting dari Frekuensi

Para pakar menekankan beberapa indikator kesehatan seksual yang lebih relevan dibanding jumlah orgasme:

1. Rasa nyaman dan aman dalam hubungan

2. Tidak ada paksaan atau tekanan untuk “harus” orgasme

3. Komunikasi terbuka dengan pasangan

4. Tidak menimbulkan nyeri, stres, atau kecemasan

5. Memberikan rasa bahagia dan rileks setelahnya

Jika hubungan seksual terasa memuaskan walau orgasme jarang terjadi, itu tetap tergolong sehat. Sebaliknya, orgasme yang sering tetapi disertai tekanan psikologis justru bisa berdampak negatif.

Kapan Perlu Konsultasi?

Disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis atau konselor seksual bila:

* Orgasme sama sekali tidak pernah terjadi dan menimbulkan stres

* Terjadi perubahan drastis dari pola sebelumnya

* Disertai nyeri, gangguan ereksi, atau penurunan gairah ekstrem

* Menjadi sumber konflik serius dalam hubungan

Orgasme bukan kompetisi dan bukan kewajiban. Idealnya, laki-laki dan perempuan mengalami orgasme sesuai kebutuhan dan kenyamanan masing-masing, bukan berdasarkan angka atau mitos yang beredar.

Kesehatan seksual yang sejati diukur dari keseimbangan fisik, emosional, dan kualitas hubungan.(JY)