Rastranews.id, Gowa— Pemerintah Kabupaten Gowa resmi menerapkan pola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di RSUD Syekh Yusuf.

Kebijakan ini bukan sekadar perubahan status administrasi, melainkan upaya mendorong rumah sakit daerah bekerja lebih lincah, efisien, dan berorientasi penuh pada kebutuhan pasien.

Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menegaskan bahwa penerapan BLUD menjadi jawaban atas keluhan klasik masyarakat terkait layanan rumah sakit, mulai dari lambannya pelayanan hingga keterbatasan manajemen.

“BLUD ini kami dorong agar pelayanan kesehatan di RSUD Syekh Yusuf benar-benar berubah. Target kami jelas: layanan harus lebih cepat, profesional, dan tidak lagi menyisakan keluhan masyarakat,” kata Husniah saat peluncuran BLUD, Senin (5/1/2026).

Dengan status BLUD, RSUD Syekh Yusuf kini memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengelola keuangan dan operasional.

Manajemen rumah sakit dapat mengambil keputusan lebih cepat tanpa harus menunggu proses birokrasi panjang, terutama terkait pengadaan alat kesehatan, peningkatan fasilitas, hingga pengelolaan sumber daya manusia.

Namun demikian, Husniah menegaskan bahwa kemandirian tersebut tetap berada dalam pengawasan ketat pemerintah daerah. Seluruh kinerja rumah sakit akan diukur berbasis target dan standar pelayanan yang jelas.

“Pengelolaan dilakukan secara mandiri, tapi tetap diawasi. Tidak boleh ada kerja asal-asalan. Semua harus terukur dan profesional,” tegasnya.

Ia menjelaskan, penerapan BLUD bertumpu pada tiga fokus utama, yaitu peningkatan kinerja pelayanan publik, fleksibilitas pengelolaan keuangan, dan tata kelola manajemen rumah sakit yang akuntabel.

Menurutnya, BLUD bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mempercepat reformasi layanan kesehatan daerah.

“Orientasi utama tetap pelayanan publik. Layanan kesehatan harus semakin mudah diakses, transparan, adil, dan manusiawi,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Direktur RSUD Syekh Yusuf, dr. Gaffar, menyebut status BLUD sebagai titik balik pengelolaan rumah sakit.

Ia mengakui, dengan kewenangan yang lebih besar, tanggung jawab RSUD juga semakin berat.

“BLUD memberi ruang bagi kami untuk bekerja lebih fleksibel dan profesional. Tapi konsekuensinya, standar pelayanan harus naik, bukan malah turun,” kata dr. Gaffar.

Ia memastikan manajemen RSUD akan memprioritaskan keselamatan dan kepuasan pasien, peningkatan kompetensi tenaga medis dan nonmedis, serta pembenahan sistem manajemen rumah sakit.

RSUD Syekh Yusuf, kata dia, juga membuka diri terhadap kritik publik sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan.

“Keberhasilan BLUD tidak hanya soal sistem, tetapi komitmen dan budaya kerja seluruh pegawai. Kami siap dievaluasi dan dikritik demi pelayanan yang lebih baik,” pungkasnya. (MU)