Rastranews.id, Makassar – Rektor UINAM, Prof Hamdan Juhannis menegaskan bahwa pembimbing ibadah haji dan umrah yang baik harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Untuk itu, kematangan pribadi menjadi sangat penting.
“Tidak mungkin menjadi pembimbing haji profesional kalau dirinya saja tidak tuntas, tidak selesai,” ujar Hamdan usai menutup kegiatan Sertifikasi Pembimbing Haji Angkatan III (Mandiri) di Sultan Alauddin Hotel and Convention, Rabu (11/2/2026) malam.
Lanjut Hamdan menekankan, salah satu aspek penting yang harus diperkuat seorang pembimbing adalah kemampuan mengelola emosi. Hal itu, kata dia, karena pembimbing akan menghadapi jemaah dengan beragam karakter, kepentingan, dan sikap yang berbeda-beda.
“Nah salah satu yang perlu diperkuat menjadi pembimbing yang selesai dengan dirinya, adalah kemampuan mengelola emosi. Karena gampang emosi orang, apalagi banyak jemaah dengan ragam karakter,” sebutnya.
Menurut Rektor, pembimbing ibadah haji adalah rujukan dalam pelaksanaan ibadah. Karena itu, mereka harus mampu menjaga sikap dan pengendalian diri.
“Pembimbing ibadah haji itu rujukan untuk ibadah. Maka harus mampu mengelola emosi, tidak mudah baper, sensi, mengontrol yang kepo-kepo apa itu semua,” tutur Hamdan.
Ditandaskan penulis buku ‘Melawan Takdir’ ini, ada tiga hal utama yang wajib dimiliki seorang pembimbing haji.
“Pertama, wawasan. Kalau tidak ada wawasan mu nda sukses ko jadi pembimbing. Kalau ada pertanyaan dari jemaah, tidak bisa kamu jawab,” tegasnya.
“Yang kedua, uang. Harus ada materi mu. Masa kau mau minta-minta sama jemaah, nda bisa,” sambung dia.
“Lalu ketiga, karakter atau integritas. Ini yang lebih penting. Pembimbing itu tidak boleh kalah secara moral. Dia akan menjadi referensi moral,” tandasnya.
Untuk diketahui, pada angkatan ketiga ini, 65 peserta masing-masing dinyatakan memenuhi syarat untuk menjadi pembimbing haji. (*)

