RastraNews.id, Makassar — Polemik seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Sulawesi Selatan yang belakangan menjadi sorotan publik turut dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD Sulsel di Gedung Sementara DPRD Sulsel, Jalan AP Pettarani, Makassar, Selasa (2/6/2026).

RDP tersebut menghadirkan berbagai pihak yang terlibat, termasuk sejumlah organisasi masyarakat yang sebelumnya memberikan perhatian terhadap kasus tersebut. Salah satunya adalah Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Selatan.

Ketua PSMTI Sulsel, Thiawudy Wikarso, yang diwakili Dewan Pakar PSMTI Sulsel, Hana Ariella Sinjaya, menyampaikan empat sikap dan harapan organisasi terkait polemik yang mencuat seputar peserta seleksi Paskibraka, Cathlyn Yvaine Lesmana.

Dalam pemaparannya, Hana mengatakan PSMTI memahami dan menghargai besarnya perhatian masyarakat terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, perhatian publik lahir dari kepedulian dan dukungan terhadap generasi muda berprestasi.

“PSMTI memahami dan menghargai perhatian luas dari masyarakat. Kami yakin perhatian itu lahir dari rasa peduli, simpati, dan dukungan tulus kepada generasi muda berprestasi. Semangat seperti ini harus kita jaga,” ujarnya.

Namun demikian, PSMTI mengingatkan agar dukungan yang diberikan tidak berkembang menjadi polemik yang berpotensi memecah persatuan.

Hana menegaskan, pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berhati-hati dalam menyampaikan pendapat, khususnya terkait isu diskriminasi dan perbedaan etnis.

“Kami mengajak semua pihak agar dukungan tersebut disampaikan secara bijaksana, proporsional, dan tidak berkembang menjadi polemik. Kita harus berhati-hati agar dukungan yang baik tidak berubah menjadi sentimen etnis atau hal-hal yang memperkeruh suasana kebangsaan,” katanya.

PSMTI juga mengimbau agar penggunaan narasi diskriminasi dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan fakta yang jelas.

“Khusus terkait narasi diskriminasi, PSMTI mengimbau agar penggunaan istilah atau narasi sensitif dilakukan dengan sangat hati-hati dan berdasarkan fakta yang jelas dan nyata,” tambahnya.

Selain itu, PSMTI mengajak masyarakat, termasuk pengguna media sosial, untuk menjaga suasana tetap kondusif dan tidak memperbesar polemik yang berpotensi melukai persaudaraan antarsesama anak bangsa.

“Mari kita memberi komentar dengan wajar, santun, dan terukur. Jangan memperbesar polemik yang dapat melukai persaudaraan kita sebagai sesama anak bangsa. Bersatu kita teguh. Perbedaan adalah kekayaan, bukan alasan untuk terpecah,” ujarnya.

Terkait proses seleksi Paskibraka ke depan, PSMTI berharap pelaksanaannya tetap mengedepankan prinsip objektivitas, transparansi, dan prestasi tanpa adanya intervensi dari pihak mana pun.

“Seleksi calon peserta Paskibraka harus dilakukan berdasarkan kemampuan dan prestasi para calon. Transparansi dan objektivitas menjadi kunci agar putra-putri terbaik bangsa yang benar-benar layak dapat mengibarkan Sang Merah Putih,” tegas Hana disambut tepuk tangan oleh peserta RDP.

Menurutnya, proses seleksi yang terbuka dan profesional akan semakin memperkuat kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan Paskibraka di masa mendatang.

RDP tersebut diharapkan menjadi ruang dialog yang konstruktif untuk mencari solusi sekaligus menjaga persatuan di tengah polemik yang berkembang di masyarakat. (*)