Rastranews.id, Lutim – PT Vale Indonesia Tbk menegaskan kualitas air di wilayah Towuti, Luwu Timur, berada dalam kondisi aman pascainsiden kebocoran pipa minyak yang terjadi pada 23 Agustus 2025.

Pemulihan disebut berjalan sesuai protokol berbasis sains, dengan pelibatan ahli independen dan lembaga pemerintah.

Sebagai bentuk transparansi, perusahaan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan menggandeng Disaster Risk Reduction Centre (DRRC) Universitas Indonesia (UI) untuk melakukan pengujian kualitas air secara berkala.

Hasil uji terbaru sampel pada 5 Oktober 2025 menyatakan seluruh parameter utama berada di bawah ambang batas baku mutu.

Head of External Relations PT Vale Indonesia, Endra Kusuma mengatakan, pihaknya memahami perihal kekhawatiran masyarakat atas dampak insiden ini.

“Karena itu, sejak awal kami melibatkan lembaga riset independen agar setiap langkah pemulihan memiliki dasar ilmiah yang kuat dan objektif dimana proses dan hasilnya dapat diverifikasi bersama oleh lembaga pemerintah dan akademik,” ujarnya.

Selain uji air, DRRC UI juga melakukan pemetaan risiko hingga radius 9 kilometer dari titik kebocoran.

Hasil sementara menunjukkan tidak ada indikasi aliran minyak mengarah ke kawasan konservasi Danau Towuti.

Parameter hidrokarbon, TPH, dan logam berat dilaporkan dalam batas aman secara ekologis.

Pasca insiden, PT Vale menghentikan aliran minyak dan membentuk Tim Tanggap Darurat bersama DLH, BPBD, Pemkab Luwu Timur, dan masyarakat.

Lebih dari 150 petugas diterjunkan untuk melakukan isolasi area, pembersihan, dan pemulihan dengan metode yang disetujui regulator.

Penanggulangan mencakup pemasangan oil boom, skimmer, bio-remediation, penyedotan minyak, bantuan air bersih 160 ribu liter per hari, serta pendampingan kesehatan dan penyuluhan pertanian.

PT Vale juga membuka Posko Grievance dan Konsultasi Publik di Towuti, serta menyusun mekanisme kompensasi bersama Pemkab Luwu Timur dan perangkat desa berdasarkan verifikasi lapangan.

Di sisi ekonomi, perusahaan menjalankan program padat karya dan pelatihan pertanian berkelanjutan bagi warga terdampak.

“Seluruh upaya dan komitmen kami berfokus agar pemulihan ini tidak hanya menyembuhkan alam, tetapi juga memulihkan kehidupan masyarakat Towuti,” tambah Endra.

Perusahaan menyebut seluruh proses dilaporkan secara berkala kepada KLHK, Kementerian ESDM, dan pemerintah daerah, serta membuka akses audit lapangan bagi lembaga sipil dan media. Transparansi data disebut menjadi bagian dari akuntabilitas publik.

“Kami percaya pemulihan Towuti harus menjadi gerakan bersama. Dengan keterbukaan data dan semangat kolaborasi, kita bisa menjadikan Towuti contoh pemulihan yang kuat, bukan polemik yang melemahkan,” tutup Endra.

Hingga 22 Oktober 2025, pemulihan di 11 titik lokasi dilaporkan selesai dengan kondisi air kembali jernih dan kini masuk fase pemantauan lanjutan oleh tim IPB University. Kondisi lapangan turut disaksikan oleh masyarakat.

“Saya lewat jembatan di Titik 2, airnya sudah jernih sekali. Banyak warga juga sudah pakai untuk cuci dan kegiatan harian,” ungkap Aroyos, masyarakat Desa Lioka. (MA)