Rastranews.id, Makassar – CEO PSM Makassar Sadikin Aksa mengatakan masalah yang baru saja dialami tim adalah hal normal.
Ia menilai, seluruh klub di berbagai belahan dunia pernah merasakan hal serupa.
Tim sepakbola profesioanl tertua di Indonesia itu memang memulai kompetisi Super League 2025-2026 dengan berbagai cobaan.
Pertama, FIFA menjatuhkan sanksi larangan transfer kepada PSM buntut gaji Wiljan Pluim belum dibayar.
Perkara ini cukup serius mengingat PSM tak bisa memainkan pemain yang baru direkrut di laga pembuka Super League.
Tak lama berselang, isu masalah gaji yang belum dibayar manajemen kepada pelatih sebelumnya, Bernardo Tavares mencuat.
Dua masalah ini, membawa PSM Makassar menelan rentetan hasil kurang baik dalam beberapa laga.
Baru di pekan 7 Super League, Juku Eja akhirnya bisa merasakan tiga poin pertama.
Namun, kondisi tim belum sepenuhnya membaik setelah Tavares memilih mundur pada 1 Oktober.
Tercatat, sampai pekan 11 Super League PSM baru memainkan 9 laga dengan hasil 2 kali kalah, 6 kali imbang dan sekali menang.
“Menurut saya, kondisi tim naik turun itu normal, bukan di PSM aja, di tempat lain juga ada. Cuman bedanya PSM itu terbuka, sementara klub lain tertutup,” ujar Sadikin saat menghadiri fun football antara suporter, legend PSM, official PSM dan awak media di Lapangan BSC, Makassar, Sabtu (15/11/2025).
Sadikin menegaskan, sampai saat ini kondisi PSM Makassar tidak ada masalah dan lebih fokus ke depan.
Meski begitu, ia tidak menepis bahwa situasi PSM belum sepenuhnya kembali ke arah yang lebih baik.
Namun dengan kedatangan Tomas Trucha sebagai pelatih kepala PSM Makassar, tim perlahan keluar dari masalah.
Sebab sejak kedatangannya, Tomas perlahan-lahan merubah kondisi tim mulai dari taktik hingga hasil.
Salah satunya, ketika ia baru saja mendampingi tim di partai ke-12 Super League melawan Dewa United, PSM meraih tiga poin.
Hasil ini menjadi angin segar bagi PSM sekaligus pemutus rantai hasil kalah dan imbang dalam beberapa laga terakhir.
“Tim pelatih kita juga saya melihat bicara dengan kapten. Semuanya normal dan yah, buat saya apapun yang terjadi di lapangan, tanggapan media wajar-wajar aja. Ada postif ada negatif. Tapi buat saya, yang utamakan tim. Tim harus lebih kuat dari semuanya,” paparnya.
Sadikin menambahkan, masalah PSM Makassar diakuinya sudah lewat. Maka dari itu, ia menegaskan bahwa tim yang berusia 110 tahun ini lebih memilih fokus ke depan.
“Masalah di belakang kita sudah lewat kita sekarang fokus ke depan. Kita berusaha bersatu. Sesuai komunikasi dengan coach (Tomas), kita harus lebih baik bersama-sama. Super League ini masih panjang perjalanannya. Jadi kita harus mengeratkan pondasi kita,” jelasnya. (MA)


