Rastranews.id, Makassar – Peralihan layanan Teman Bus ke Trans Sulsel berdampak langsung pada masyarakat, khususnya warga yang sehari-hari bergantung pada transportasi umum lintas wilayah Makassar, Gowa, dan Galesong.

‎Ketiadaan layanan tersebut dinilai membuat biaya dan waktu perjalanan meningkat.

‎Salah satu pengguna Teman Bus, Laila, mahasiswa Sosiologi Universitas Hasanuddin, mengatakan penghentian sementara layanan ini sangat dirasakan oleh masyarakat yang bekerja dan bersekolah di Kota Makassar namun tinggal di daerah penyangga.

‎“Ini sangat berdampak pada masyarakat pemotor yang tinggal di Gowa atau Galesong, yang hanya datang bekerja atau bersekolah di Makassar. Dengan ketiadaan Teman Bus ini, membuat mereka mengeluarkan biaya lebih. Uang dan waktunya itu lebih ke sana,” ujar Laila.

‎Menurutnya, alternatif transportasi yang tersedia saat ini seperti ojek online belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi Teman Bus, baik dari sisi biaya maupun kenyamanan.

‎“Apalagi kalau kita dapati generasi sandwich yang harus menghidupi orang tua dan lain sebagainya, (uangnya) habis di situ,” katanya.

‎Keluhan serupa disampaikan Naura, pemengaruh (influencer) sekaligus pengguna Teman Bus.

Ia menyoroti kondisi fasilitas pendukung transportasi umum, terutama halte, yang dinilai belum layak.

‎Hal itu ia sampaikan saat audiensi dengan Ketua DPRD Provinsi Sulsel bersama Dishub Sulsel, Rabu (7/1/2026).

‎“Kami tadi menyampaikan terkait dengan fasilitas umum seperti halte, itu harus diadakan perbaikan. Karena melihat halte-halte yang ada itu sangat tidak proper,” ujar Naura.

‎Ia juga mendesak agar layanan transportasi umum segera kembali beroperasi, baik melalui Trans Sulsel maupun Teman Bus, dengan kualitas layanan yang setara.

‎“Entah itu Trans Sulsel ataupun Teman Bus, kami hanya mau percepatan operasinya. Kemudian juga fasilitasnya harus setara atau mendekati Teman Bus. Kami berharap Trans Sulsel itu berkiblat ke Teman Bus,” tegasnya.

‎Naura mengungkapkan, dalam pertemuan dengan Dinas Perhubungan Sulsel, disampaikan bahwa salah satu kendala utama pengoperasian Trans Sulsel adalah keterbatasan anggaran.

‎“Tadi yang disampaikan, mereka itu sebenarnya kendala di anggaran. Bahwa sebenarnya, kalau mau dicari solusinya adalah kolaborasi antara Pemerintah Provinsi dan juga pemerintah kota yang dilintasi oleh Teman Bus ataupun Trans Sulsel,” katanya.

‎Menurutnya, minimnya anggaran berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan, fasilitas, dan kenyamanan transportasi publik.

‎“Anggaran ini berpengaruh terhadap pelayanan, fasilitas, dan juga kenyamanan dari Trans Sulsel,” ujarnya.

‎Terkait jadwal operasional, Naura menyebut belum ada kepastian waktu yang disampaikan Dishub Sulsel, meski ada target penyelesaian dalam waktu dekat.

‎“Belum ada sih. Tapi memaksimalkan untuk selesainya di bulan ini,” katanya.

‎Sebagai tindak lanjut, para pengguna berencana mendorong kolaborasi lintas pemerintah daerah agar layanan transportasi umum segera kembali beroperasi.

‎“Kami tentunya juga akan berusaha, mengadakan audiensi atau diskusi publik dengan pemerintah kota, utamanya Pemkot Makassar,” pungkasnya. (MA)