RASTRANEWS.ID, MAKASSAR — Perumda Air Minum (PDAM) Kota Makassar membutuhkan sekitar 30 ribu meter air sepanjang 2026 untuk mengganti meter yang rusak, memenuhi pemasangan sambungan baru, serta mengantisipasi kasus pencurian meter yang belakangan marak terjadi.

‎Plt Direktur Perumda Air Minum Makassar, Andi Syahrum Makkuradde, mengatakan keterbatasan meter air menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan pelayanan kepada pelanggan.

‎”Layanan pelanggan kita terkendala oleh meteran dan tentu suplai air bersih. Sekarang yang menjadi keluhan masyarakat adalah maraknya pencurian meter. Kami akan menyurat kepada Pak Sekda selaku Ketua Dewan Pengawas agar memberikan arahan sehingga kami bisa melakukan pengadaan meteran,” kata Andi Syahrum Makkuradde di Kantor PDAM Makassar, Kamis (6/8/2026).

‎Ia menjelaskan, keterlambatan penggantian meter air berdampak pada menurunnya pendapatan perusahaan karena penggunaan air pelanggan tidak dapat tercatat secara optimal.

‎”Yang jelas mengalami penurunan pendapatan jika meteran tidak segera diganti,” ujarnya.

‎Menurut Andi Syahrum, kebutuhan meter air tahun ini mencapai sekitar 30 ribu unit. Jumlah tersebut bukan hanya untuk mengganti meter yang dicuri, tetapi juga meter yang rusak serta memenuhi kebutuhan sambungan pelanggan baru.

‎”Kalau yang dicuri sebenarnya sedikit. Tetapi yang rusak, yang harus diganti, ditambah pemasangan baru, itu membutuhkan sekitar 30 ribu meter pada tahun 2026,” jelasnya.

‎Kasus pencurian meter air dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Tamalanrea, Biringkanaya, dan Rappocini. Menurutnya, meter air diduga menjadi sasaran karena mengandung material tembaga yang memiliki nilai jual.

‎Selain persoalan meter air, PDAM Makassar juga menghadapi tantangan menurunnya debit air baku akibat musim kemarau. Kondisi tersebut berdampak pada distribusi air, terutama ke wilayah utara dan timur Kota Makassar.

‎”Kurang lebih sebulan terakhir aliran air ke wilayah utara dan timur sempat lancar. Namun belakangan debit Sungai Lekopancing semakin menurun sehingga pompa di Intake Manggala tidak bisa beroperasi maksimal, terutama pada malam hingga pagi hari,” katanya.

‎Ia menyebut debit air yang sebelumnya sempat mencapai sekitar 400 liter per detik kini turun hingga di bawah 200 liter per detik saat kondisi sungai mengalami penyusutan.

‎”Kalau debit turun, sekarang bisa di bawah 200 liter per detik. Kami menunggu air laut surut agar pompa bisa kembali dioperasikan secara maksimal,” ujarnya.

‎Dalam penanganan kekeringan, PDAM Makassar mengaku terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun hingga kini belum ada permintaan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.

‎”Kalau ada kebutuhan saat bencana, BPBD menyiapkan armada tangki dan kami menyiapkan airnya. Sampai sekarang belum ada permintaan distribusi air bersih,” pungkasnya. (*)