Oleh: Edi Kurniawan (Interpretator Sejarah)
Hubungan Indonesia–Australia kerap dipahami dalam bingkai politik modern abad ke-20. Namun jauh sebelum konsep negara-bangsa terbentuk, interaksi lintas benua telah lebih dahulu menjembatani kedua kawasan ini.
Salah satu bukti historis paling signifikan adalah pelayaran para pelaut dari suku Makassar yang dalam literatur internasional dikenal sebagai Macassans—ke pesisir utara Australia, khususnya wilayah Arnhem Land.
Kajian dalam dokumen The Macassans menunjukkan bahwa aktivitas ini telah berlangsung secara reguler setidaknya sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20.
Fakta tersebut bukan sekadar catatan perdagangan, melainkan penanda kuat bahwa kawasan timur Nusantara telah menjadi bagian dari jejaring ekonomi global jauh sebelum era modernisasi.
Motivasi utama pelayaran Macassan adalah komoditas teripang (trepang), hasil laut bernilai tinggi di pasar Tiongkok sebagai bahan pangan bergizi sekaligus obat tradisional.
Tingginya permintaan dari Asia Timur mendorong terbentuknya jalur pelayaran musiman antara Makassar dan pesisir Australia utara.
Para pelaut berangkat memanfaatkan angin muson barat dengan menggunakan kapal tradisional jenis padewakang, kapal kayu berukuran besar yang dirancang untuk pelayaran samudra.
Mereka menetap selama beberapa bulan di pesisir Australia untuk menangkap, mengolah, dan mengeringkan teripang sebelum kembali ke Nusantara saat arah angin berubah.
Dari sudut pandang sejarah ekonomi, sistem ini mencerminkan organisasi perdagangan yang mapan. Terdapat pembagian kerja di atas kapal, manajemen logistik yang terstruktur, serta jaringan distribusi regional yang terhubung dengan pasar Asia.
Pada masa itu, Makassar berfungsi sebagai simpul maritim strategis di kawasan timur Nusantara.
Keunikan fenomena Macassan juga tampak pada pola interaksinya dengan masyarakat Aborigin. Berbeda dengan ekspansi kolonial Eropa yang kerap berujung dominasi teritorial, relasi Macassan lebih berbasis kerja sama ekonomi dan pertukaran sosial.
Jejak interaksi tersebut terlihat pada transfer teknologi pengolahan teripang, pertukaran barang seperti logam dan kain, serta adopsi kosakata bahasa Makassar ke dalam bahasa lokal Aborigin.
Temuan arkeologis berupa sisa perapian dan lokasi pengolahan hasil laut semakin menguatkan adanya kontak yang berkelanjutan, bukan sekadar persinggahan sesaat.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa komunitas Aborigin bahkan memasukkan unsur budaya Makassar ke dalam tradisi lisan dan karya seni mereka.
Secara historis, hubungan ini dapat dibaca oleh generasi masa kini sebagai bentuk awal diplomasi maritim berbasis kekuatan ekonomi—tanpa klaim kedaulatan dan tanpa proyek kolonisasi permanen.
Pelayaran Macassan tidak dapat dilepaskan dari tradisi kemaritiman panjang masyarakat Sulawesi Selatan. Sejak era kerajaan maritim seperti Kesultanan Gowa–Tallo, kawasan ini telah dikenal sebagai pusat perdagangan dan navigasi.
Kemampuan membaca arah angin, memahami arus laut, serta membangun kapal berdaya jelajah jauh menunjukkan kecanggihan teknologi lokal.
Fakta ini sekaligus menantang narasi historiografi kolonial yang kerap menempatkan masyarakat Asia Tenggara sebagai pihak periferal dalam arus globalisasi awal.
Sebaliknya, para Macassans merupakan aktor aktif dalam ekonomi samudra Hindia dan Pasifik. Mereka membangun jejaring dagang lintas batas, memanfaatkan sistem muson, dan menjalin kemitraan dengan komunitas lokal di luar wilayah Nusantara.
Aktivitas pelayaran ini mulai terhenti pada awal abad ke-20 ketika pemerintah kolonial Australia memberlakukan regulasi ketat terhadap pelayaran asing.
Kebijakan tersebut secara efektif mengakhiri siklus perdagangan musiman yang telah berlangsung berabad-abad.
Penutupan ini bukan sekadar menghentikan aktivitas ekonomi, tetapi juga memutus mata rantai interaksi maritim yang sebelumnya tumbuh secara organik antara Nusantara dan Australia utara.
Dalam konteks kekinian, narasi Macassan memiliki makna strategis. Ia menunjukkan bahwa hubungan Indonesia–Australia memiliki akar historis yang jauh lebih tua daripada diplomasi modern.
Kisah ini menegaskan bahwa Indonesia memiliki tradisi maritim global yang kuat sejak era pra-modern, bahwa hubungan antarbangsa dapat dibangun melalui kemitraan ekonomi tanpa dominasi politik, dan bahwa identitas bangsa bahari bukanlah mitos romantik, melainkan fakta historis yang terdokumentasi.
Jejak Macassans di Australia utara bukan sekadar cerita perdagangan teripang. Ia adalah narasi tentang keberanian menembus samudra, kecanggihan membaca alam, dan kemampuan membangun relasi lintas budaya secara damai.
Sejarah ini mengingatkan kita bahwa lautan bukanlah pemisah, melainkan ruang interaksi dan perjumpaan peradaban.
Menghidupkan kembali memori maritim tersebut bukan hanya tugas akademik, tetapi juga bagian dari upaya membangun kembali visi Indonesia sebagai kekuatan maritim yang berakar kuat pada sejarahnya sendiri. (*)

