Rastranews.id, Makassar – UPT Museum Mandala dan Societeit de Harmonie Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulsel, gelar Pameran Temporer, Mandala Carnival dan Light Symphony Tahun 2025 yang terangkum dalam Mandala Week.
Kegiatan itu, dilaksanakan mulai Jumat 28 – Minggu 30 November 2025, di Kawasan Monumen Mandala, Jl Jend. Sudirman, Kecamatan Ujung Pandang, Makassar.
Kepala UPT Museum Mandala dan Societeit de Harmonie Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulsel, Meirani Tenriawaru, S.STP, M.Si mengatakan, ada tiga kegiatan yang dilakukan. Seperti Pameran Temporer, Mandala Carnival dan Light Symphony.
“Jadi untuk Pameran Temporer sendiri kita mengusung tema 30 tahun Mandala. Jadi tahun ini tepat 30 tahun Mandala sejak diresmikan pada tahun 1995 oleh Presiden Soeharto,” kata Meirani, Jumat sore (28/11/2025).
Kemudian kata Meirani, adalah Mandala Carnival. Dimana terdiri banyak kegiatan dengan melibatkan berbagai komunitas. Ada komunitas basket, ada jalan bareng dan banyak lainnya. Lalu ada karnaval, pawai pelajar, ada jawara museum dan kompetisi tri on tri basket serta talkshow.
Pada hari terakhir lanjut Meirani, ada Mandala Light Symphony. Di mana di dalamnya memadukan visual seperti video mapping Monumen Mandala. Dengan tema cerita yang ada, terkait pembebasan Irian Barat.
“Jadi kami berharap kegiatan ini memberikan sensasi yang baru bagi masyarakat. Khususnya masyarakat Kota Makassar,” bebernya.
Disebutkan Meirani, kegiatan ini melibatkan banyak pihak sama seperti tahun lalu. Termasuk menggandeng komunitas orang tua dengan anak Down Syndrome. Termasuk juga sekolah-sekolah dengan tujuann untuk mengedukasi anak sekolah terkait keberadaan museum Mandala.
“Tidak lupa juga kami menggandeng Maystro yang akan menampilkan art performans, yaitu Sainal Beta yang terkenal dengan lukisan tanah liatnya dan juga ada saudara Iswan yang terkenal dengan lukisan lukisannya,” sebutnya.
Meirani menjelaskan, rangkaian kegiatan ini merupakan upaya bersama untuk menghadirkan ruang pembelajaran sejarah yang lebih dekat, ruang ekspresi kreatif yang lebih terbuka, sert pengalaman visual yang lebih modern bagi masyarakat.
Lanjut Meirani menerangkan, seluruh kegiatan yang terselenggara selama tiga hari ini, akan menjadi bukti bahwa kawasan Monumen Mandala dapat berkembang sebagai ruang publik yang hidup, dinamis, dan relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi momentum berkelanjutan untuk memperkuat fungsi museum sebagai pusat edukasi dan rekreasi, sekaligus memperkaya ekosistem seni budaya di Sulawesi Selatan, “harapnya.
“Semoga sinergi yang terbangun dapat membawa manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan terus mendorong hadirnya inovasi dalam pelestarian sejarah di masa mendatang,” sambungnya.(JY)


