Rastranews.id, Makassar – Meski ditemukan lebih dulu, identitas jenazah berjenis kelamin laki-laki korban kecelakaan Pesawat ATR 42-500 belum bisa diidentifikasi.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol. dr. Muhammad Haris, menegaskan bahwa proses identifikasi jenazah korban tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Menurutnya, ketepatan identitas jauh lebih penting dibandingkan kecepatan penyampaian hasil.

“Kita tidak membutuhkan kecepatan, kami membutuhkan ketepatan. Dan ini adalah suatu keadaan yang harus pasti bahwa jenazah ini adalah korban ini,” ujarnya saat konferensi pers, Rabu (21/1/2026).

Ia menjelaskan, meski tim telah berhasil mengidentifikasi korban kedua atas nama Florencia Lolita Wibisono, namun proses identifikasi jenazah lain yang pertama kali ditemukan itu masih terus berjalan.

Identitas jenazah tersebut belum bisa dipastikan karena terdapat perbedaan kondisi dengan jenazah sebelumnya.

Saat ini, jenazah tersebut telah diterima oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel dan masih dalam tahap pemeriksaan.

“Mudah-mudahan untuk jenazah yang kami sudah terima, dengan metode yang saya jelaskan, bisa teridentifikasi,” ujarnya.

Namun hingga kini, identitas jenazah tersebut belum dapat dipastikan.

“Secepatnya nanti akan kita sampaikan kalau memang sudah bisa ditemukan,” kata Haris.

Kabiddokkes Polda Sulsel mengungkapkan, salah satu tantangan utama dalam proses identifikasi adalah perbedaan kondisi jenazah, meski ditemukan dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Iya berbeda. Walaupun waktu bersamaan ditemukan. Karena ada yang jatuh di kedalaman 400 meter, dan kemarin ditemukan di 200 meter,” jelasnya.

Perbedaan kedalaman tersebut, kata dia, sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik jenazah dan berdampak langsung pada metode identifikasi yang digunakan.

“Kondisi jenazah sangat menentukan. Kalau sidik jarinya masih bisa diperiksa, itu bisa diklaim dengan secepatnya. Tapi kalau sidik jarinya sudah susah diperiksa, itu dilakukan pemeriksaan pembanding yang lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, tim DVI telah bekerja maksimal sejak jenazah diterima.

“Masih dalam proses. Kita bekerja dari tadi pagi setelah kami terima jenazahnya, kemudian tim kami bekerja dengan maksimal,” katanya.

Dalam proses identifikasi, Tim DVI Polda Sulsel tetap menggunakan metode primer dan sekunder, seperti pemeriksaan sidik jari, gigi, serta profil biologis lainnya.

“Umur itu bisa ditentukan dari gigi, kemudian bisa ditentukan dari beberapa profil yang lain. Tetap kita menggunakan metode primer dan sekunder,” jelas Haris.

Terkait pemeriksaan DNA, ia menyebutkan bahwa metode tersebut masih dalam tahap proses dan menjadi pilihan terakhir.

“Kami masih berproses untuk pemeriksaan. Kami upayakan dengan data primer yang lain, dari gigi kemudian dari sidik jari itu kami usahakan,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa data antemortem seluruh korban dalam manifes telah lengkap.

“Antemortem dari manifest yang kita terima 10 (penumpang) itu sudah semua. Sudah lengkap semua,” ujarnya.

Data tersebut meliputi ciri fisik, catatan medis, hingga tanda-tanda khusus pada tubuh korban.

“Antemortem itu bukan berarti harus ambil DNA. Kita mengambil data mulai dari warna kulit, rambut, tinggi badan, ciri-ciri khusus, apakah ada bekas operasi atau patah tulang. DNA itu jalan terakhir jika kita temukan jenazah yang tidak utuh,” jelasnya.

Sementara itu, pengenalan wajah tidak bisa dijadikan patokan utama dalam identifikasi.

“Tidak bisa dipastikan. Karena kalau sudah meninggal sudah berubah. Apalagi dengan cuaca, kondisi sudah bengkak. Tidak bisa dipastikan foto dengan waktu meninggal,” tutupnya. (MA)