RastraNews.id, BARRU — Potensi hasil alam di Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, dikembangkan menjadi produk pangan bernilai ekonomi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Profesi (KKP) 06 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Salah satu potensi yang dikembangkan ialah baje atau kerang sungai. Bahan pangan yang masih dapat ditemukan di sejumlah aliran sungai di Desa Lompo Tengah itu diolah menjadi sambal dengan nama SAMBELTA, akronim dari Sambel Baje’ Lompo Tengah.

Inovasi tersebut lahir dari upaya mahasiswa KKP 06 Unismuh Makassar melihat potensi bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat untuk kemudian dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah.

Selama ini, keberadaan baje lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Melalui pengolahan menjadi sambal, mahasiswa KKP mencoba membuka peluang agar hasil alam tersebut memiliki bentuk pemanfaatan yang lebih luas sekaligus dapat diperkenalkan sebagai produk khas desa.

Proses pembuatan SAMBELTA diawali dengan mengolah baje yang diperoleh dari sungai. Daging kerang tersebut kemudian dipadukan dengan sejumlah bahan sambal hingga menghasilkan olahan dengan cita rasa khas.

Pengembangan produk tidak berhenti pada proses pengolahan. Mahasiswa KKP 06 juga mendorong agar baje dapat dikemas menjadi produk pangan yang memiliki identitas lokal dan berpotensi dipasarkan.

Pemilihan baje sebagai bahan utama sekaligus menjadi bagian dari upaya mengenalkan potensi sumber daya alam Desa Lompo Tengah. Keberadaannya yang masih dapat ditemukan di sungai menunjukkan bahwa hasil alam setempat memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk unggulan berbasis potensi desa.

Melalui SAMBELTA, mahasiswa KKP 06 Unismuh Makassar berharap baje tidak hanya dipandang sebagai hasil sungai untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi yang membawa identitas Desa Lompo Tengah.

Inovasi tersebut menjadi salah satu contoh pemanfaatan sumber daya lokal melalui kreativitas mahasiswa dan masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi pengembangan produk pangan khas desa yang bersumber dari hasil alam setempat. (*)