RastraNews.id, Makassar— Ketua PSMTI Sulsel (Sulawesi Selatan), Thiawudy Wikarso, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan Bai Nian Imlek Bersama seluruh warga Tionghoa Makassar bertajuk “Harmoni Imlek Nusantara” yang berlangsung meriah di Balai Prajurit M. Yusuf, Jalan Jenderal Sudirman, Rabu (18/2/2026).

Ia mengaku sangat terharu melihat antusiasme masyarakat yang memadati lokasi acara. “Kami merasa sangat berterima kasih, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang hadir pada hari ini, dari yayasan-yayasan juga, dan sukses selalu untuk ketua panitianya,” ujar Thiawudy.

Menurutnya, tingginya partisipasi warga di luar perkiraan panitia, terlebih kegiatan berlangsung berdekatan dengan momentum Ramadan. “Luar biasa antusias. Kami tidak menyangka sama sekali karena ada kekhawatiran bertepatan dengan Ramadan. Pada saat kita buat rencana ini, belum ada kepastian kapan Ramadan,” ungkapnya.

Thiawudy menilai suasana kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut menjadi gambaran kuatnya harmoni sosial di Makassar.

“Sangat mengesankan bahwa orang kita juga bisa lihat, kita berbaur di sini. Mudah-mudahan kita bisa buat yang lebih baik lagi,” katanya.

Ia menegaskan, kehadiran ribuan warga menjadi bukti nyata persatuan dan kekompakan masyarakat Tionghoa di Kota Makassar.

“Ribuan warga yang hadir ini menjadi bukti persatuan dan kekompakan kita. Kita bisa merangkul semua yayasan, masyarakat Tionghoa untuk bersama-sama merayakan Bai Nian ini,” tuturnya.

Terkait makna Tahun Kuda Api, Thiawudy menjelaskan filosofi tersebut sarat dengan pesan semangat dan keberanian.

“Makna Kuda Api itu penuh dengan semangat. Kuda itu kan pekerja, ya. Api itu melambangkan keberanian, semangatlah,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan, Yonggris Lao, menegaskan bahwa perayaan Imlek pada hakikatnya adalah momentum kebersamaan yang harus dimaknai secara mendalam oleh masyarakat.

Menurutnya, nilai utama Imlek bukan sekadar seremoni, tetapi tentang harmoni antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta penghormatan kepada leluhur dan keluarga.

“Jadi sebenarnya Imlek itu inti utamanya adalah kebersamaan. Kebersamaan manusia dengan alam, kebersamaan manusia dengan manusia. Hubungan sosial harus baik, hubungan dengan leluhur dan keluarga juga harus baik,” ujarnya.

Ia menyebut, Imlek merupakan momen paling tepat untuk mempererat silaturahmi dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang.

“Kalau dalam perayaan Imlek masih ada permusuhan, kebencian, atau konflik, berarti orang itu belum menjalankan nilai-nilai Imlek yang sebenarnya,” tegas Yonggris.

Ia juga menekankan tradisi keterbukaan saat Imlek, di mana setiap tamu yang datang harus diterima dengan baik sebagai simbol persaudaraan.

“Dalam Imlek, kalau kita menerima tamu, bagaimanapun dia, bahkan jika pernah bermasalah dengan kita, tetap harus diterima. Karena Imlek adalah saat mempererat silaturahmi antar sesama,” jelasnya.

Lebih lanjut, Yonggris memaknai Imlek sebagai wujud bakti dalam berbagai dimensi kehidupan.

“Imlek itu tentang bakti. Bakti kepada keluarga, bakti kepada sesama, dan bakti kepada negara,” tambahnya.

Ia pun menilai perayaan tahun ini terasa istimewa karena berdekatan dengan bulan suci Ramadan, sehingga menjadi simbol kuat toleransi dan harmoni antarumat. (mu)