RastraNews.id, Luwu Timur — Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Luwu Timur, Suharman, berharap Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) melibatkan aparat desa serta masyarakat lokal dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
Harapan itu disampaikan Suharman menyusul pencanangan program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) yang sebelumnya dicanangkan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur bersama Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai bagian dari penguatan tata kelola data desa menuju Sensus Ekonomi 2026.
Menurut Suharman, pelibatan masyarakat desa akan membuat proses pendataan jauh lebih efektif dan akurat karena warga lokal memahami kondisi wilayahnya sendiri.
“Kalau misalnya orang dari luar daerah datang melakukan pendataan di desa-desa di Luwu Timur, tentu mereka harus bertanya mulai dari awal karena tidak memahami kondisi wilayah. Beda kalau masyarakat desa sendiri yang dilibatkan, mereka sudah tahu kondisi di lapangan,” ujarnya.
Ia mengatakan sejak awal dirinya termasuk pihak yang mendorong agar kegiatan sensus maupun pendataan statistik di tingkat desa memberdayakan masyarakat lokal, termasuk aparat desa yang memiliki kemampuan di bidang tersebut.
“Kalau PMD mengoordinasikan masyarakat desa untuk ikut terlibat dalam sensus ini, saya termasuk orang pertama yang menyampaikan apresiasi dan terima kasih,” katanya.
Menurut Suharman, semangat itu sejalan dengan harapan pemerintah desa agar masyarakat desa tidak hanya menjadi objek pendataan, tetapi juga menjadi bagian langsung dalam proses pengumpulan data.
Ia menilai desa memiliki sumber daya manusia yang memahami karakter sosial dan kondisi lapangan sehingga dapat membantu menghasilkan data yang lebih valid.
“Kalau masyarakat desa dilibatkan, tentu hasil pendataan akan lebih efektif dibandingkan orang dari luar yang belum memahami kondisi desa,” jelasnya.
Sebelumnya, Wakil Bupati Luwu Timur, Puspawati Husler, menegaskan bahwa data yang akurat menjadi pondasi utama agar kebijakan pemerintah tepat sasaran.
Hal itu disampaikan saat kegiatan Pencanangan Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) yang digelar BPS Luwu Timur di Aula Dinas Pendidikan, Malili, Kamis (23/4/2026).
“Data harus akurat, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan,” ujar Puspawati.
Program Desa Cantik sendiri merupakan inisiatif strategis BPS untuk meningkatkan literasi statistik, kualitas data, serta kapasitas aparatur desa dalam mengelola dan memanfaatkan data secara optimal.
Wabup Puspawati juga menekankan pentingnya keberadaan kader statistik desa yang mampu menjadi agen perubahan dalam mengelola, menganalisis, dan menginterpretasikan data guna mendukung pembangunan yang lebih terarah.
Sementara itu, Kepala BPS Provinsi Sulawesi Selatan, Aryanto, sebelumnya menyampaikan komitmen untuk terus mendampingi desa dalam meningkatkan kualitas data melalui program Desa Cantik.
Ia menilai program tersebut menjadi langkah strategis membangun ekosistem statistik yang kuat hingga tingkat desa guna menopang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam pencanangan tersebut, tiga desa di Kecamatan Malili resmi ditetapkan sebagai Desa Cantik, yakni Desa Lakawali, Desa Atue, dan Desa Pasi-Pasi. (*)

