Ketika rektor menyebut istilah Tank, Support, Fighter, hingga Marksman, keduanya saling berpandangan kecil. Ada senyum yang muncul tanpa perlu dijelaskan.
“Berarti kita harus tahu peran kita masing-masing ya,” kata Rina pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Fadli menjawab singkat, “Dan harus bisa kerja bareng, mau perannya apa pun.”
Di luar ballroom, malam Makassar terus bergerak. Tapi di dalam ruangan itu, waktu seperti berhenti sebentar—memberi ruang bagi dua wisudawan itu untuk menyadari bahwa mereka tidak sedang “lulus” dari sebuah permainan, melainkan baru akan memulai pertandingan yang sesungguhnya.
Dan ketika acara usai, langkah mereka keluar dari ruangan tidak lagi sama seperti saat mereka masuk.
Ada sesuatu yang berubah bukan pada toga yang mereka lepas, tetapi pada cara mereka memandang masa depan yang kini terasa lebih nyata, lebih dekat, dan lebih menantang. []

