Baginya, dunia setelah kampus seperti peta besar yang belum sepenuhnya terlihat jelas.

Ada jalur cepat, ada jebakan, ada juga peluang yang hanya muncul jika seseorang cukup peka membaca arah.

Di atas panggung, Rektor ITB Nobel Indonesia, Dr. Badaruddin, menyampaikan pesan yang menghubungkan dunia gim dengan realitas hidup.

Tentang strategi, tentang kerja sama, dan tentang bagaimana setiap orang memiliki peran yang berbeda dalam satu tim besar bernama kehidupan.

Namun di kursi wisuda itu, pesan itu tidak lagi sekadar konsep. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih personal.

Rina teringat kelompok-kelompok tugas yang pernah ia jalani ketika ada yang menjadi penggerak, ada yang diam-diam memastikan semuanya berjalan, dan ada yang mengambil keputusan di saat terakhir.

Ia menyadari, dunia kerja yang akan ia masuki mungkin tidak jauh berbeda.

Sementara Fadli memikirkan hal lain: ketidakpastian. Ia tahu, setelah toga ini dilepas, tidak ada lagi jadwal kuliah yang teratur.

Tidak ada lagi ruang kelas yang menjadi tempat pulang sementara. Yang ada hanya dunia nyata, dengan ritme yang jauh lebih cepat dari yang pernah ia hadapi.