MAKASSAR, RastraNews.id – Di tengah gemerlap cahaya panggung Sandeq Ballroom Claro Hotel Makassar, dua sosok muda duduk berdampingan.

Toga hitam yang mereka kenakan tampak sama, namun cerita yang mereka bawa ke hari itu tidak pernah benar-benar serupa.

Rina menatap layar besar di depan ruangan. Sesekali ia tersenyum kecil melihat visual para “hero” Mobile Legends yang diperagakan di panggung wisuda ITB Nobel Indonesia.

Di sebelahnya, Fadli terlihat lebih tenang, seperti sedang mencoba menyerap setiap kalimat sambutan yang terdengar di ruangan itu.

Bagi keduanya, hari itu bukan sekadar seremoni kelulusan. Ia adalah garis batas—antara dunia yang selama ini mereka kenal sebagai mahasiswa, dan dunia yang masih samar bentuknya di depan sana.

Rina masih ingat bagaimana ia pertama kali mengenal kampus ini. Ia datang dengan rasa ragu, namun pulang setiap hari dengan pekerjaan rumah, tugas kelompok, dan diskusi yang perlahan membentuk cara pandangnya.

Di balik tema wisuda yang hari itu mengangkat Mobile Legends, ia justru menangkap sesuatu yang lebih dalam: tentang kerja sama dan peran.

“Kalau dipikir-pikir, mirip juga ya,” ujarnya pelan sambil tersenyum kecil. “Kita nggak bisa jalan sendiri terus.”

Fadli mengangguk. Ia bukan pemain aktif gim itu, tapi metafora yang disampaikan rektor terasa dekat dengan kehidupannya.