Rastranews.id, Soppeng — Berakhir sudah penantian panjang warga di tiga desa di Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.
Setelah puluhan tahun mempertaruhkan nyawa menyeberang sungai menggunakan rakit dan ban karet, kini hadirnya jembatan gantung permanen membantu mereka lebih mudah mengakses antarwilayah.
Jembatan gantung sepanjang 90 meter tersebut kini membentang dan menghubungkan Desa Marioriaja, Desa Marioritengnga, dan Desa Watu, tiga desa yang sebelumnya terisolasi akibat keterbatasan infrastruktur penyeberangan.
Kehadiran jembatan ini diharapkan membawa perubahan bagi aktivitas sosial, ekonomi, hingga pendidikan masyarakat.
Seorang warga dari Desa Watu, Hendra, mengungkapkan kondisi sulit yang selama ini dialaminya bersama warga yang lain, terutama anak-anak sekolah yang sebelumnya harus kesulitan menjangkau tempat mereka menimba ilmu.
“Sebelumnya masyarakat hanya mengandalkan rakit dan ban karet untuk menyeberang. Rakit itu dibuat secara gotong royong,” ujar Hendra, Kamis (18/12/2025).
Situasi akan semakin riskan ketika debit air sungai meluap. Rakit kerap hanyut terbawa arus, memaksa warga Desa Marioriaja dan Marioritengnga menempuh jalur darat memutar hingga sekitar 30 kilometer untuk menuju Desa Watu yang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pendidikan.
“Setelah jembatan ini ada, jarak tempuh masyarakat dan anak sekolah hanya sekitar satu kilometer. Akses jadi lebih mudah,” kata Hendra.
Ia menambahkan, jembatan gantung tersebut tidak hanya dapat dilalui pejalan kaki, tetapi juga sepeda motor, sehingga sangat membantu mobilitas warga ke kebun, pasar, maupun sekolah.
Hal senada disampaikan Andi Sardia (49), warga desa Watu lainnya yang mengenang masa kecilnya saat harus menyeberangi Sungai Lakellu menggunakan rakit sederhana dengan risiko tinggi.
“Dari dulu kita pakai rakit. Kalau banjir, rakit sering hanyut. Anak sekolah kadang pakai ban bekas, terombang-ambing, bajunya basah semua,” tuturnya.
“Saya pernah terbawa arus, sampai harus saling pegangan dengan suami. Anak-anak sekolah juga kasihan, kalau bannya bocor harus digendong menyeberang,” sambung Sardia.
Harapan akan adanya jembatan penghubung, kata Sardia, telah ia dambakan sejak masih kecil. Pada akhirnya menjelang usia 50 tahun, impiannya tersebut baru bisa terwujud.
“Sejak kecil kami sudah berharap ada jembatan. Baru sekarang terwujud. Rasanya sangat lega,” katanya.
Adapun diketahui, jembatan gantung yang diberi nama Satya Haprabu Lakellu ini dibangun melalui kerja sama antara masyarakat, TNI, dan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan.
Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Sulsel, Kombes Pol Muhammad Ridwan, menyebut pembangunan jembatan ini sebagai wujud nyata kehadiran negara di wilayah terisolasi, sejalan dengan arahan Presiden RI.
“Ini wujud kehadiran negara. Jembatan ini menghubungkan tiga desa yang sebelumnya terisolasi dan menjadi bukti Polri, khususnya Brimob, hadir hingga ke pelosok,” ujar Ridwan.
Ia menjelaskan, proses pembangunan hanya berlangsung selama 14 hari dengan melibatkan 15 personel Brimob Batalyon C Pelopor bersama warga setempat.
“Personel yang kami turunkan memang memiliki keterampilan khusus dalam pembangunan jembatan,” tambahnya.
Sementara Kapolda Sulsel, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, mengatakan jembatan tersebut dibangun oleh tim Vertical Rescue bersama personel Brimob Polri dan TNI dalam Program 1.000 Jembatan di seluruh Indonesia.
“Jembatan ini akan mengakhiri masa isolasi warga, mempermudah akses pendidikan, kesehatan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi desa,” kata Djuhandhani saat meresmikan jembatan, Kamis (18/12/2025).
Mantan Dirtipidum Bareskrim Polri ini juga meminta agar jembatan dijaga dan dirawat secara berkelanjutan.
“Saya minta Polres Soppeng dan Bhabinkamtibmas melaporkan kondisi jembatan setiap minggu, sehingga jika ada kerusakan bisa segera ditindaklanjuti,” tutupnya.
Kini, Jembatan Gantung Satya Haprabu Lakellu tidak hanya menjadi sarana penghubung antarwilayah, tetapi juga simbol berakhirnya isolasi dan hadirnya harapan baru bagi warga tiga desa di pedalaman Soppeng. (MU)

