RastraNews.id, Makassar – Badan Pengelola Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark (MPUGGp) terus mematangkan berbagai persiapan menjelang revalidasi UNESCO yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Juli 2026. Meski sebagian besar persiapan dinilai berjalan sesuai rencana, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, mulai dari persoalan kebersihan hingga perbaikan infrastruktur di sejumlah titik kunjungan asesor.

General Manager Badan Pengelola Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark, Dedy Irfan Bachry, mengatakan proses revalidasi tidak hanya menilai kelengkapan administrasi, tetapi juga melihat langsung kondisi kawasan yang akan dikunjungi dua evaluator UNESCO selama lima hari di Maros dan Pangkep.

“Yang sudah disiapkan menurut saya sudah cukup biasa. Tapi yang perlu kita kritisi adalah apa-apa yang masih kurang. Hal-hal inilah yang perlu mendapat dukungan, khususnya dari pemerintah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep,” kata Dedy saat memaparkan kesiapan revalidasi UNESCO.

Salah satu catatan yang menjadi perhatian berada di kawasan Karengta, Kabupaten Pangkep. Dedy mengungkapkan masih ditemukan sampah plastik di sepanjang jalur wisata. Selain itu, masih ada pengunjung yang memberi makan satwa liar meski larangan telah dipasang.

“Masih kita temukan sampah-sampah plastik di sepanjang jalan. Masyarakat juga, walaupun sudah ada rambu larangan memberi makan satwa, masih ada yang melakukannya. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi beberapa infrastruktur di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung yang mengalami kerusakan. Menurutnya, akses menuju sejumlah titik wisata kini sudah tidak optimal karena beberapa fasilitas rusak.

Di kawasan Butterfly Sanctuary, penataan area parkir juga dinilai masih perlu dibenahi. Begitu pula dengan lapak pedagang di kawasan wisata yang diharapkan lebih tertata agar memberikan kesan rapi kepada wisatawan maupun asesor UNESCO.

Namun, perhatian terbesar Badan Pengelola tertuju pada kawasan Rammang-Rammang, yang menjadi salah satu lokasi utama dalam agenda kunjungan evaluator.

Menurut Dedy, kawasan tersebut merupakan wajah Geopark Maros-Pangkep karena menjadi destinasi yang paling mudah dijangkau dari Bandara Sultan Hasanuddin.

“Rammang-Rammang adalah wajah Geopark Maros-Pangkep. Dari bandara ke lokasi hanya sekitar 35 sampai 40 menit. Asesor juga pasti akan berkunjung ke sana,” katanya.

Sayangnya, kondisi jalur pejalan kaki berbahan kayu di kawasan itu saat ini mengalami kerusakan cukup parah. Bahkan, kata Dedy, telah beberapa kali dilaporkan wisatawan terjatuh akibat kondisi lintasan yang rusak.

“Kondisinya sangat memprihatinkan. Sudah beberapa kali ada laporan wisatawan jatuh dan terluka karena kondisi jalurnya. Ini yang tidak ingin kita alami saat asesor UNESCO berada di lokasi. Karena itu harus segera diperbaiki,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Badan Pengelola telah berkoordinasi dengan Kelompok Kerja Geopark Kabupaten Maros serta berbagai pihak untuk mempercepat perbaikan, termasuk meminta dukungan sejumlah instansi yang memiliki keterkaitan dengan kawasan tersebut.

Sementara itu, di wilayah Kabupaten Pangkep, masih terdapat beberapa titik yang menjadi perhatian. Salah satunya akses menuju kawasan Tondong Tallasa, termasuk persoalan kebersihan di sepanjang jalur yang akan dilalui evaluator.

“Kami berharap titik-titik yang masih menjadi catatan ini bisa segera dibenahi. Yang sudah baik tentu kita pertahankan, tetapi yang masih kurang harus kita selesaikan bersama sebelum asesor datang,” ujar Dedy.

Revalidasi UNESCO Global Geopark merupakan evaluasi berkala yang dilakukan setiap empat tahun untuk memastikan kawasan geopark tetap memenuhi standar pengelolaan UNESCO. Selama berada di Sulawesi Selatan, dua asesor UNESCO akan mengunjungi sejumlah geosite, fasilitas edukasi, kawasan konservasi, hingga pusat pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Maros dan Pangkep sebagai bagian dari proses penilaian. (*)