Rastranews.id, Jakarta – Iran secara tegas menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat (AS).
Alih-alih menerima tawaran damai, Teheran justru mengajukan syaratnya sendiri dan menegaskan perang bakal terus berlanjut hingga kepentingannya terpenuhi.
Sinyal keras ini memperlihatkan bahwa konflik belum mendekati akhir, bahkan berpotensi semakin meluas.
Melalui laporan televisi pemerintah, seorang pejabat Iran menyampaikan bahwa proposal AS yang dikirim melalui perantara Pakistan telah ditolak mentah-mentah.
Pejabat Iran itu menegaskan Teheran bersedia berunding dengan syarat sendiri yang diajukan.
“Mengakhiri perang ketika mereka memutuskan untuk melakukannya dan ketika syarat-syarat mereka sendiri terpenuhi,” demikian laporan The Guardian, yang bersumber dari pernyataan pejabat Iran dikutip pada Kamis, (26/3/2026).
Pernyataan pejabat Iran itu sekaligus menjadi pesan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada tekanan internasional, termasuk dari Washington.
Sebagai respons, Iran mengajukan rencana negosiasi lima poin yang mencerminkan kepentingan strategisnya.
Lima poin itu antara lain penghentian pertempuran dan pembunuhan pejabat Iran; jaminan tidak ada serangan lanjutan; ganti rugi atas kerusakan perang; pengakuan kedaulatan penuh Iran; kontrol atas Selat Hormuz.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran membalikkan tekanan. Iran sebagai pihak yang diserang ingin jadi yang menentukan arah negosiasi.
Di sisi lain, Gedung Putih menunjukkan sikap berbeda. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa jalur komunikasi masih terbuka.
“Menjadi jelas bahwa Iran ingin berbicara dan Presiden Trump bersedia mendengarkan,” kata Leavitt.
Ia juga menegaskan bahwa AS masih menargetkan perang dapat berakhir dalam waktu empat hingga enam minggu. Dia mengklaim situasi saat ini sebagai “kemenangan gemilang”.
Presiden AS Donald Trump bahkan dijadwalkan melakukan kunjungan ke Beijing pada 14 Mei. Manuver AS itu memicu spekulasi bahwa Washington berharap konflik selesai sebelum agenda tersebut.
Sebelumnya, melalui mediasi Pakistan, AS mengajukan proposal 15 poin yang mencakup di antaranya pencabutan sanksi; pembatasan program nuklir Iran; pengendalian penggunaan rudal; pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, seorang pejabat senior Iran menyebut proposal tersebut sebagaisangat maksimalis dan tidak masuk akal.
Pernyataan ini menunjukkan jurang perbedaan yang lebar antara kedua pihak dalam menentukan syarat perdamaian.
Di tengah kebuntuan diplomasi, eskalasi militer justru meningkat.
Iran dilaporkan meluncurkan gelombang drone dan rudal ke Israel serta wilayah Teluk.
Serangan tersebut bahkan memicu kebakaran besar di bandara internasional Kuwait. Sebaliknya, Israel juga masih terus menggempur wilayah Iran.
Meski saling menolak, peluang dialog belum sepenuhnya tertutup.
Pejabat dari Pakistan dan Mesir menyebutkan kemungkinan pertemuan langsung antara Washington dan Teheran bisa terjadi dalam waktu dekat.
Lokasi seperti Pakistan atau Turki disebut sebagai kandidat tempat perundingan. Namun Gedung Putih mengingatkan agar publik tidak terlalu terburu-buru. (MA)

