RastraNews.id, Maros – Status UNESCO Global Geopark (UGGp) Maros-Pangkep tak hanya menjadi pengakuan dunia atas kekayaan geologi kawasan karst terbesar kedua di dunia. Lebih dari itu, status tersebut juga menjadi magnet yang mendatangkan wisatawan dan membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang.
Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Roti Maros Salenrang. Berlokasi di Desa Salenrang, Kabupaten Maros, tempat ini bukan sekadar pusat oleh-oleh khas Roti Maros, melainkan telah bertransformasi menjadi rest area yang menawarkan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjung.
Pemilik Roti Salenrang, Muhammad Reski, mengatakan peningkatan exposure setelah Maros-Pangkep berstatus UNESCO Global Geopark turut berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan ke tempat usahanya.
“Kami mendapatkan exposure, apalagi dari media nasional, pasti brand dari Roti Salenrang lebih dipercaya lagi sama pelanggan. Alhamdulillah pasti ada pengaruh. Dari yang belum tahu, setelah searching Geopark jadi lebih tahu lagi,” kata Reski.
Namun, menurutnya, mendatangkan wisatawan hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah menciptakan pengalaman yang membuat mereka ingin kembali berkunjung.
Berangkat dari pengalaman saat bepergian ke Pulau Jawa menggunakan bus, Reski terinspirasi dengan konsep rest area yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan pelintas dalam satu lokasi. Gagasan itulah yang kemudian diwujudkan di Roti Salenrang sejak 2022, usai pandemi Covid-19.
Ia mengklaim menjadi pelopor konsep rest area untuk pusat oleh-oleh Roti Maros di Kabupaten Maros.
“Kalau dari basic sebenarnya sama, kami menjual produk khas daerah, yaitu Roti Maros. Yang membedakan, setelah Covid-19 tahun 2022 kami menghadirkan konsep rest area seperti ini. Saya terinspirasi waktu ke Jawa naik bus, kenapa tidak dibuat juga di sini,” ujarnya.
Konsep yang dihadirkan mengusung layanan one stop service. Pengunjung tidak hanya bisa membeli oleh-oleh, tetapi juga beristirahat di gazebo, menikmati makanan, beribadah, hingga memarkir kendaraan dengan nyaman dalam satu kawasan.
“Karena sekarang orang waktunya terbatas, semua sibuk. Mereka butuh one stop, satu kali singgah. Bisa istirahat, makan, salat, sekaligus beli oleh-oleh tanpa harus singgah di banyak tempat,” jelasnya.
Salah satu daya tarik yang paling diingat pengunjung adalah penyediaan teh dan kopi gratis selama 24 jam. Berbeda dengan kebiasaan toko oleh-oleh lain yang menyediakan minuman hanya untuk sopir langganan, Reski memilih membuka fasilitas tersebut bagi siapa saja, bahkan bagi mereka yang tidak membeli produk.
“Nah, kita ubah konsepnya sebagai minuman untuk umum. Semuanya bisa singgah. Kita ingin kasih pengalaman bahwa orang pernah singgah di sini minum teh sama kopi walaupun tidak beli. Kalau nanti ada uang, pasti ke sini, karena pengalamannya sudah ada di sini,” tuturnya.
Selain memberikan pengalaman kepada wisatawan, kebijakan itu juga menjadi bentuk sedekah yang ingin terus dijaga.
“Yang kedua memang alasannya, ya kita harus bersedekah di mana pun, setiap hari kalau bisa, dan ini yang kami wujudkan,” katanya.
Dampak kehadiran Geopark juga dirasakan masyarakat sekitar. Saat ini Roti Salenrang mempekerjakan sekitar 100 karyawan dengan sistem tiga shift selama 24 jam. Mayoritas merupakan warga Desa Salendrang dan sekitarnya.
Tak hanya itu, tempat ini juga menjadi etalase bagi berbagai produk UMKM lokal tanpa memungut biaya sewa. Bahkan, Reski mengaku aktif mendampingi pelaku UMKM agar meningkatkan kualitas produk, mulai dari kemasan hingga standar mutu sehingga lebih siap dipasarkan kepada wisatawan yang datang ke Maros.
“Banyak produk UMKM yang kami jual di sini. Tidak ada sewa tempat. Kami juga pernah berbagi kepada UMKM binaan Geopark tentang pentingnya standar kualitas dan packaging supaya lebih menarik bagi pembeli,” pungkasnya.
Bagi Roti Salenrang, Geopark memang berhasil membawa wisatawan datang ke Maros. Namun, pengalaman sederhana seperti tempat singgah yang nyaman, secangkir teh hangat, dan keramahan pelayanan menjadi alasan yang membuat mereka ingin kembali. (*)

