RastraNews.id, Palu – Ketua Forum Pemuda Kaili Bangkit (FPKB), Randir L. Taepo, mengajak seluruh elemen masyarakat Sulawesi Tengah untuk menjaga stabilitas daerah dan tidak terjebak pada polemik yang dinilai tidak substansial di tengah berbagai program pembangunan yang sedang dijalankan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Menurut Randir, Sulawesi Tengah saat ini membutuhkan suasana yang kondusif agar berbagai program strategis yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dapat berjalan optimal.
Ia menilai energi publik seharusnya lebih banyak diarahkan untuk mengawal pembangunan, peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, dan percepatan pembangunan infrastruktur dibanding memperbesar isu-isu yang tidak memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
“Sebagai masyarakat Kaili, kita mengenal filosofi Nosarara Nosabatutu, yaitu bersaudara dan bersatu. Semangat itu harus terus kita jaga. Sulawesi Tengah membutuhkan ketenangan agar pembangunan dapat berjalan maksimal. Jangan sampai perhatian kita habis pada hal-hal yang tidak terlalu substansial sementara masyarakat membutuhkan solusi nyata,” kata Randir, Minggu (21/6/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus merespons sejumlah kritik yang belakangan muncul terkait keterbukaan informasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Menurut Randir, anggapan bahwa keterbukaan informasi hanya menjadi slogan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Ia menilai pemerintah daerah justru telah membuka ruang komunikasi yang luas bagi masyarakat melalui berbagai kanal resmi.
Salah satu yang disorot adalah program BERANI Samporoa, layanan aspirasi masyarakat yang dapat diakses selama 24 jam melalui aplikasi pesan WhatsApp.
“BERANI Samporoa dibuka selama 24 jam. Masyarakat bisa menyampaikan keluhan, aspirasi, kritik, maupun saran secara langsung kepada pemerintah daerah. Ini menunjukkan bahwa Gubernur Anwar Hafid tidak menutup diri, tetapi justru ingin mendengar langsung suara masyarakat,” ujarnya.
Randir menjelaskan, dalam budaya Kaili, istilah samporoa memiliki makna saling menyapa, saling mendengar, dan membangun komunikasi yang baik.
Karena itu, keberadaan program tersebut dinilai menjadi simbol pendekatan pemerintahan yang lebih terbuka dan dekat dengan masyarakat.
“Kalau pemerintah sudah menyediakan ruang komunikasi dan pengaduan selama 24 jam, lalu masih disebut tertutup, tentu masyarakat bisa menilai sendiri. Keterbukaan informasi tidak semata-mata diukur dari komunikasi personal, tetapi dari sejauh mana pemerintah membuka akses yang luas kepada publik,” katanya.
Lebih jauh, Randir menilai sejumlah program unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menunjukkan hasil yang dirasakan langsung masyarakat.
Ia menyebut Program BERANI Cerdas telah menarik lebih dari 18 ribu pendaftar yang ingin memperoleh bantuan pendidikan, sementara Program BERANI Sehat membantu masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan atau mengalami tunggakan iuran BPJS agar tetap mendapatkan pelayanan kesehatan.
Di sektor infrastruktur, Program BERANI Lancar juga dinilai mulai menunjukkan progres signifikan, termasuk keberhasilan pemerintah daerah menggalang dukungan pembiayaan pembangunan jalan melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan tambang.
“Ini adalah kerja nyata yang sedang berjalan. Program-program tersebut menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, mari kita kawal dan dukung bersama agar manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, Randir menegaskan bahwa kritik tetap merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi. Namun kritik yang disampaikan harus bersifat konstruktif dan tidak menimbulkan kegaduhan yang berpotensi mengganggu konsentrasi pemerintah dalam menjalankan agenda pembangunan.
“Kritik tentu diperlukan sebagai kontrol publik. Tetapi kritik yang baik adalah kritik yang memberikan solusi dan mendorong perbaikan, bukan sekadar menciptakan polemik yang tidak produktif,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Randir kembali mengajak seluruh masyarakat Sulawesi Tengah untuk menjaga semangat persaudaraan dan kebersamaan sebagai modal utama pembangunan daerah.
“Daerah ini milik kita bersama. Mari kita rawat semangat Nosarara Nosabatutu. Jika ada kekurangan, sampaikan melalui ruang yang telah disediakan. Namun ketika pemerintah sedang bekerja dan membuka diri terhadap aspirasi masyarakat, maka sudah sewajarnya kita memberikan dukungan. Sulawesi Tengah membutuhkan persatuan, stabilitas, dan kebersamaan untuk terus maju,” pungkasnya.

