RastraNews.id, Makassar – Festival Cap Go Meh Makassar Zou Zou 2577/2026 berlangsung meriah di Jalan Sulawesi, Selasa (3/3/2026).
Event tahunan yang digelar DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Sulawesi Selatan bersama Vihara Girinaga ini menghadirkan ragam atraksi budaya dan menjadi simbol harmoni di tengah keberagaman.
Perayaan Cap Go Meh yang merupakan hari ke-15 Tahun Baru Imlek ini dirangkaikan dengan berbagai pertunjukan, mulai dari barongsai tonggak, lion dance Vihara Girinaga, Girinaga Dancer, parade tambur bedug pembauran, pesulap cilik, lighting show, hingga penampilan musik.
Suasana Pecinan Makassar pun dipadati warga yang menikmati rangkaian acara sekaligus ngabuburit di bulan Ramadan.
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan buka puasa bersama Wali Kota Makassar serta tausiyah nasional oleh Ustaz Muhammad Fakhrurrazi Anshar.
Ketua Panitia, Roy Ruslim, menjelaskan Cap Go Meh secara harfiah berarti hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.
“Hari ini adalah hari ke-15 dari perayaan Tahun Baru Imlek. Jadi disebut Cap Go Meh, artinya hari ke-15. Setiap tahun DPD Walubi Sulawesi Selatan mengadakan kegiatan zou-zou, artinya jalan-jalan,” ujarnya.
Menurut Roy, perayaan tahun ini berlangsung sukses dengan dukungan cuaca yang baik dan antusiasme tinggi dari pelaku UMKM. Sebanyak 150 stan kuliner dan produk usaha kecil terisi penuh bahkan habis sesuai target panitia.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para jajaran pejabat yang hadir, seperti Wali Kota Makassar bersama jajaran forkopimda Makassar dan Kepala Kantor Kementrian Agama Sulawesi Selatan.
Perayaan Cap Go Meh tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Roy menilai momentum tersebut menjadi gambaran nyata keharmonisan antarumat beragama.
“Walaupun kita berbeda-beda, malam ini kita bisa berbaur bersama. Bahkan ada kolaborasi bedug dan gendang barongsai. Itu luar biasa, pertama kali ditampilkan dan sangat harmonis,” ungkapnya.
Kolaborasi tersebut memadukan doa-doa Ramadan dengan tabuhan gendang barongsai yang biasanya identik dengan perayaan Imlek, menciptakan suasana yang menggetarkan dan penuh makna.
Berbagi Kasih di Bulan Ramadan
Selain hiburan dan pertunjukan budaya, kegiatan ini juga diisi dengan aksi sosial.
DPD Walubi Sulsel membagikan sembako kepada warga prasejahtera di Kelurahan Wajo serta takjil bagi pengunjung yang membutuhkan.
Panitia juga menyediakan stan gratis bagi dinas terkait sebagai bentuk dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi UMKM lokal.
“Kita harapkan ekonomi UMKM bisa tumbuh dan membantu keluarga mereka,” kata Roy.
Momentum Kebersamaan dan Cinta Kasih
Ketua DPD Walubi Sulsel, Henry Sumitomo, menilai perayaan tahun ini lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena menghadirkan kolaborasi lintas budaya dan agama.
“Penilaian tahun ini lebih bagus daripada tahun sebelumnya. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih besar lagi dan lebih baik,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Walubi Sulsel, Miguel Dharmadjie, menyebut momentum berdekatan antara Imlek dan Ramadan sebagai pengingat nilai universal kemanusiaan.
“Di tengah keberagaman, ada satu nilai yang sama yaitu nilai kemanusiaan dan cinta kasih. Cap Go Meh adalah momen penuh berkah, dan Ramadan adalah bulan memupuk kebaikan. Mari bersama-sama merajut harmoni di tengah keberagaman,” tuturnya.
Melalui Festival Cap Go Meh Zou Zou 2577/2026 ini, Walubi Sulawesi Selatan berharap semangat persaudaraan dan toleransi terus tumbuh, menjadikan Makassar sebagai contoh kota yang harmonis dalam keberagaman budaya dan agama. (mu)

