MAKASSAR, RastraNews.id – Upaya mendukung program pengelolaan sampah yang digagas Pemerintah Kota Makassar terus mendapat respons positif dari masyarakat.

Salah satunya ditunjukkan Ketua RT 01/RW 04 Kelurahan Karuwisi Utara, Kecamatan Panakkukang, Arjun Syam, yang secara mandiri menginisiasi pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos.

Inisiatif tersebut menjadi contoh nyata penerapan pengelolaan sampah berbasis lingkungan di tingkat rukun tetangga.

Melalui pemilahan sejak dari sumbernya, sampah basah atau sisa dapur yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan kini diolah menjadi kompos yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.

Program ini sejalan dengan implementasi Peraturan Wali Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2026 tentang pengelolaan sampah.

Regulasi tersebut menitikberatkan pada pemilahan sampah sejak dari rumah tangga, di mana sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di berbagai wilayah, serta memperkuat program urban farming sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

“Kami bergerak dari lingkungan terkecil terlebih dahulu. Sampah basah atau sisa dapur yang biasanya langsung dibuang, kini kami kumpulkan dan olah menjadi pupuk kompos,” kata Ketua RT 01/RW 04 Kelurahan Karuwisi Utara, Arjun Syam.

Arjun yang juga merupakan mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia mengatakan, langkah tersebut merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam mendukung kebijakan Pemerintah Kota Makassar terkait pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Menurutnya, perubahan pola pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan rumah tangga karena menjadi sumber utama timbulan sampah setiap hari.

Dengan keterlibatan warga, beban pengangkutan sampah menuju TPA dapat ditekan secara bertahap.

“Selain membantu pemerintah mengurangi penumpukan sampah di TPA, kompos yang dihasilkan juga bisa dimanfaatkan warga untuk menyuburkan tanaman melalui program urban farming di pekarangan rumah masing-masing,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak warga yang terlibat dalam gerakan serupa sehingga budaya memilah dan mengolah sampah dapat menjadi kebiasaan sehari-hari.

Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat mulai dari tingkat RT dan RW.

Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, pengelolaan sampah yang berkelanjutan diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan produktif, sekaligus mendukung terwujudnya Kota Makassar yang ramah lingkungan.