RASTRANEWS.ID, MAKASSAR — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar terus menggencarkan edukasi pemilahan sampah dari rumah sebagai bagian dari perubahan sistem pengelolaan sampah pasca larangan penerapan open dumping di tempat pemrosesan akhir (TPA).

‎Edukasi tersebut dilakukan hingga tingkat kecamatan, kelurahan, RW, sekolah, dan komunitas agar masyarakat semakin memahami pentingnya memilah sampah sejak dari sumber sekaligus mengolah sampah organik secara mandiri.

‎Hal itu mengemuka dalam Coffee Morning bertajuk Pilah Sampah Mulai dari Rumah, Aksi Nyata Menuju Kota Makassar yang Mulia, Bersih, dan Berkelanjutan yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Makassar di Nordu Coffee, Jalan Emmy Saelan, Rabu (5/8/2026).

‎Perwakilan DLH Kota Makassar, Dr. Sandra Wulan, mengakui kebijakan pemilahan sampah masih menuai beragam tanggapan karena belum seluruh masyarakat memahami cara mengelola sampah organik maupun anorganik.

‎”Kalau melihat respons di media sosial beberapa hari terakhir, memang masih banyak masyarakat yang belum memahami bagaimana pengolahan sampah organik maupun anorganik. Karena itu, sosialisasi harus terus diperkuat,” ujarnya.

‎Menurut Sandra, DLH telah melakukan sosialisasi kepada petugas kebersihan, mengunjungi lebih dari 150 sekolah melalui program Makassar Goes to School, serta menggelar edukasi di 15 kecamatan. Dalam waktu dekat, sosialisasi akan diperluas hingga ke tingkat kelurahan dan RW.

‎Ia menegaskan pengolahan sampah organik tidak selalu membutuhkan komposter berukuran besar maupun lahan yang luas. Warga dapat memanfaatkan berbagai metode sederhana, seperti biopori, komposter ember bertumpuk, hingga lubang kompos di pekarangan.

‎”Banyak cara sederhana yang bisa dilakukan masyarakat. Yang penting sampah organik tidak langsung dibuang bercampur dengan sampah lainnya,” katanya.

‎Sandra juga menyebut Makassar saat ini memiliki 12 Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Namun, karena fasilitas tersebut belum tersedia di seluruh wilayah, masyarakat tetap didorong mengolah sampah secara mandiri dari rumah.

‎Sementara itu, Lurah Baru Kecamatan Ujung Pandang, Fajar Harianto, menjelaskan sekitar 54 persen sampah yang masuk ke TPA merupakan sampah organik. Namun, hanya sampah organik basah yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot.

‎Menurutnya, pemilahan sejak dari rumah akan mempercepat proses pengolahan, mengurangi volume sampah yang dibawa ke TPA, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sampah yang masih dapat didaur ulang.

‎”Kalau warga sudah memilah dari rumah, sampah organik bisa langsung diolah menjadi pakan maggot, residu langsung dibawa ke TPA, sedangkan sampah yang bernilai bisa dimanfaatkan kembali. Jadi pekerjaan petugas juga menjadi lebih ringan,” jelasnya.

‎Fajar mengungkapkan TPS 3R Kelurahan Baru saat ini mampu mengolah sekitar 600 kilogram sampah organik per hari melalui budidaya maggot. Program tersebut mulai dikembangkan sejak 2020 melalui kerja sama Pemerintah Kota Makassar dengan perusahaan asal Korea Selatan, ENTOMO, yang didukung hibah Korea International Cooperation Agency (KOICA), kemudian diperkuat dengan hadirnya TPS 3R Karebosi pada 2023.

‎Ia menegaskan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah.

‎”Kalau semua bergerak bersama, mulai dari warga, RT/RW hingga pemerintah, beban TPA akan berkurang dan sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai justru bisa memberikan manfaat ekonomi maupun lingkungan,” pungkasnya. (*)