Kemampuan sang maestro menggubah lagu dalam lirik bahasa Makassar yang puitis, romantis dan filosofis membuat dirinya mampu meruntuhkan sekat-sekat perbedaan.
Ia membuktikan berbeda itu indah. Tidak cuma manis di lidah tapi juga syahdu dalam perilaku.
Sailong dan Atiraja, [1950-an] dua dari sekian belas lagu hasil gubahan Ho Eng Djie yang hingga kini terus melekat dalam sanubari.
Sailong, yang berarti Sayang-sayang, cenderung bernuansa melankolik.
Ia, tak cuma bicara tentang kerinduan yang mendalam melainkan pula soal kesetiaan, sesuatu yang tak mudah ditemui di era digital dan serba instan.
Kata demi kata di setiap lariknya mengungkapkan perasaan seseorang yang terombang-ambing oleh rasa rindu.
Bagai sebuah biduk yang tengah mencari dermaga terakhirnya.
Di arus yang terdalam ada kepasrahan yang bertunas di sana. Pun terdapat rasa sayang dan cinta yang membuncah nyaris tanpa berbendung.
Tulus. Ikhlas. Rela.
Dalam konteks budaya, Sailong juga sering dipandang sebagai refleksi atas perjalanan hidup seorang anak manusia nan-berkelok. Penuh onak dan pengorbanan.

