Rastranews.id, Makassar – Matahari senja sebentar lagi memeluk malam. Di sebuah cafe di jalan A Mappanyukki, Makassar, mengalun dua nomor berturut-turut.

Sailong dan Atiraja, terdengar dengan indahnya, tanpa kata.

Komposisi instrumentalia ini bukan terdengar dari meja kecil vinyl melainkan dimainkan secara live oleh Mangara Jazz Project, pertengahan 2007.

Delapan belas tahun masa berganti, Sailong dan Atiraja seolah membuat rasa kita enggan berpeluk dengan detak waktu hari-hari ini.

Mereka justru terus menggoda hati untuk berpaling lebih jauh ke belakang.

Ho Eng Djie. Sebuah nama yang melegenda. Kota Makassar, penikmat lagu daerah, dan pecinta kesetaraan dan toleransi pernah merasakan vibe positif seorang Eng Djie [1906 – 1960].

Nama Eng Djie tak cuma mewangi di kalangan warga masyarakat Tionghoa keturunan tapi juga di antara kerinduan orang-orang Makassar akan lagu-lagu berlirik bahasa ibu.

Pemuda Eng Djie menjadikan dua kutub itu saling bergandeng tangan.

Antara kalangan Tionghoa dan Bugis-Makassar. Dua entitas itu, berkat Eng Djie, dapat saling berdekap di atas partitur yang sama dan menciptakan simponi yang indah.

Pundak dan tangan dingin Ho Eng Djie menjadi jembatan kebudayaan berbeda, yang biasa disebut dengan asimilasi.
Fisiknya memang Tionghoa tapi hati dan jiwanya sungguh sangat “meng-Mangkasara”.