Rastranews.id, Makassar – Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai pemaparan visi dan misi Prof. Jamaluddin Jompa (JJ) dalam forum resmi penyaringan calon Rektor Universitas Hasanuddin (UNHAS) periode 2026–2030 memperlihatkan kemampuan komunikasi publik yang efektif, berimbang, dan berakar pada realitas capaian konkret universitas selama masa kepemimpinannya.
Menurut Asratillah, gaya komunikasi Prof. Jamaluddin saat memaparkan gagasan di hadapan Majelis Wali Amanat (MWA) dan Senat Akademik (SA) Unhas menunjukkan karakter kepemimpinan yang matang.
Ia mampu mengubah data, pengalaman, dan arah kebijakan menjadi narasi yang mudah dipahami, tanpa kehilangan kedalaman makna akademik.
“Prof. Jamaluddin berbicara dengan bahasa yang sederhana namun strategis. Ia tidak membangun visi dari jargon, tetapi dari pengalaman dan hasil nyata yang bisa diverifikasi. Itu menunjukkan tingkat kedewasaan komunikasi yang jarang dimiliki oleh pemimpin akademik,” ujar Asratillah, Senin (3/10/2025).
Dalam pandangannya, kekuatan utama Prof. Jamaluddin terletak pada konsistensi antara kata dan kerja.

Paparannya dianggap mampu menghubungkan visi akademik dengan capaian empiris UNHAS yang kini diakui dunia.
Di bawah kepemimpinannya, UNHAS berhasil menembus peringkat 951–1000 dunia versi Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) dan posisi 201 di Asia.
“Capaian itu menjadi bukti bahwa pesan yang disampaikan bukan sekadar klaim, tapi refleksi dari proses yang nyata. Komunikasi publik yang kuat selalu didukung oleh kredibilitas kinerja, dan Prof. JJ punya keduanya,” tambahnya.
Asratillah menilai, pemaparan Prof. Jamaluddin juga menonjol karena berhasil menyatukan bahasa akademik dengan pesan moral kelembagaan.
Ia tidak hanya berbicara soal target dan angka, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial universitas terhadap masyarakat.
“Dalam konteks universitas publik, kemampuan menghubungkan gagasan ilmiah dengan nilai kemanusiaan adalah bentuk komunikasi yang paling esensial. Prof. Jamaluddin melakukannya dengan tenang, terukur, dan elegan,” ujarnya.
Lebih jauh, Asratillah menilai bahwa seluruh calon rektor yang memaparkan visi-misi patut diapresiasi karena telah membuka ruang literasi publik tentang bagaimana universitas dikelola dan ke mana arah kebijakan akademiknya.
Namun, menurutnya, Prof. Jamaluddin memiliki keunggulan dalam hal clarity, yakni kejelasan pesan dan arah berpikir yang konsisten dengan rekam jejak kepemimpinannya.
“Komunikasi yang jernih adalah cermin dari pikiran yang jernih. Prof. JJ menunjukkan kemampuan itu. Ia tidak hanya menjelaskan apa yang ingin dicapai, tapi juga bagaimana dan mengapa hal itu penting bagi masa depan Unhas,” tutup Asratillah.
Pemaparan visi-misi calon rektor Unhas kali ini menjadi salah satu momen penting dalam tradisi akademik universitas besar tersebut.
Forum terbuka ini bukan hanya ajang evaluasi, tetapi juga cermin bagi publik untuk menilai karakter dan kapasitas para calon pemimpin kampus.
Dalam konteks itu, cara Prof. Jamaluddin Jompa mengomunikasikan ide-idenya menegaskan posisinya sebagai figur akademik yang kuat, reflektif, dan berorientasi pada masa depan Unhas yang berkelas dunia. (MA)

