RastraNews.id, Makassar — Plt Dirut PDAM Makassar, Syahrum Makkurade, memastikan langkah antisipasi krisis air bersih terus diperkuat menghadapi musim kemarau. Salah satu upaya konkret adalah penyiapan armada distribusi air bersih dan bantuan sumur bor dari pemerintah provinsi.
Dalam jumpa pers di Kantor PDAM Makassar, Selasa (21/4/2026), Syahrum mengungkapkan dukungan langsung dari pemerintah provinsi untuk memperkuat layanan air bagi masyarakat.
“Awalnya 14 mobil tangki, tapi berdasarkan perhitungan bantuan akan ada sekitar 80 mobil tangki yang standby. Ditambah bantuan sumur bor di beberapa titik,” jelasnya.
Ia menyebut, instruksi bantuan tersebut datang langsung dari gubernur yang telah mengumpulkan seluruh dinas terkait untuk mempercepat penanganan dampak kekeringan.
Selain distribusi air melalui mobil tangki dan sumur bor, PDAM juga mengoptimalkan seluruh sumber air yang tersedia agar suplai ke pelanggan tetap berjalan.
Namun demikian, Syahrum menegaskan bahwa PDAM tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menjalankan fungsi sosial sebagai perusahaan milik pemerintah.
“PDAM ini bukan hanya cari profit, tapi juga punya tanggung jawab sosial. Bahkan yang bukan pelanggan pun tetap kita bantu,” tegasnya.
Menurutnya, bantuan air bersih kerap justru lebih banyak menjangkau masyarakat yang belum menjadi pelanggan resmi, sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar warga.
Ia juga mengajak semua pihak untuk tidak saling menyalahkan, melainkan bersama-sama mencari solusi atas persoalan yang telah berlangsung lama.
“Jangan lagi saling membully. Mari kita fokus bekerja untuk masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Kabag Distribusi dan Kehilangan Air (DKA) PDAM Makassar, Wahidin, menjelaskan bahwa persoalan utama distribusi air di wilayah utara terletak pada sistem pengaliran yang mengandalkan gravitasi.
Sistem ini membutuhkan debit air besar dan stabil, yakni sekitar 550 liter per detik. Namun saat ini, suplai yang tersedia hanya sekitar 305 liter per detik, sehingga terjadi defisit sekitar 250 liter per detik.
Kondisi tersebut dipicu menurunnya pasokan air baku dari Bendung Leko Pancing di Kabupaten Maros, yang kini hanya sekitar 810 liter per detik, jauh dari kondisi normal 1.100–1.200 liter per detik.
Untuk menutupi kekurangan, PDAM memanfaatkan tambahan suplai dari Sungai Jeneberang melalui intake Malengkeri, meski jumlahnya masih terbatas.
Sebagai solusi saat musim kemarau, PDAM juga akan mengoptimalkan sumber air alternatif dari Sungai Moncongloe yang mampu menyuplai hingga 600–900 liter per detik.
Dengan kombinasi berbagai sumber tersebut, PDAM berharap kebutuhan air dapat terpenuhi hingga mencapai kapasitas ideal, sehingga distribusi ke wilayah utara bisa kembali normal.
“Bagi masyarakat, yang penting air mengalir. Itu yang menjadi tanggung jawab kami untuk memastikan layanan tetap berjalan,” tutupnya. (*)

