Rastranews.id, Palu — Di saat banyak daerah masih berjibaku dengan dampak kebijakan efisiensi anggaran nasional, Sulawesi Tengah justru dinilai mampu menjaga keberlanjutan program strategis pembangunan sumber daya manusia. Hal tersebut tercermin dari keberhasilan Beasiswa BERANI Cerdas, program unggulan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid yang tetap berjalan di tengah keterbatasan fiskal.
Pengamat Politik Citra Institute, Efriza, menilai mayoritas pemerintah daerah saat ini masih sangat bergantung pada kebijakan Presiden Prabowo Subianto terkait Transfer Keuangan Daerah (TKD). Ketergantungan tersebut kerap menjadi kendala serius dalam merealisasikan program-program prioritas di daerah.
Namun, kondisi tersebut dinilai tidak menjadi hambatan bagi Anwar Hafid. Di tengah tekanan efisiensi anggaran, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah justru mampu mempertahankan bahkan memperluas akses pendidikan melalui program beasiswa gratis bagi generasi muda.
“Selama ini publik mempertanyakan ketergantungan daerah terhadap TKD. Tapi Anwar Hafid justru membuktikan bahwa di tengah efisiensi anggaran, ribuan mahasiswa masih bisa mendapatkan beasiswa gratis, padahal masa kepemimpinannya baru berjalan satu tahun,” ujar Efriza, Sabtu (7/2/2026).
Berdasarkan data dari akun resmi Instagram @beranicerdas_, jumlah penerima Beasiswa BERANI Cerdas kini telah mencapai 23.568 mahasiswa. Capaian tersebut dinilai signifikan dan menunjukkan keberpihakan nyata pemerintah daerah terhadap sektor pendidikan.
Efriza menilai, fokus Anwar Hafid pada pendidikan mencerminkan pemahaman strategis dalam membangun daerah secara berkelanjutan, dengan menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama pembangunan.
“Ini menunjukkan bahwa dia memahami betul bagaimana membangun daerah melalui penguatan sektor pendidikan,” katanya.
Menurut Efriza, keberhasilan BERANI Cerdas tidak hanya berdampak langsung bagi mahasiswa penerima manfaat, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi daya saing Sulawesi Tengah. Model kebijakan ini bahkan dinilai dapat menjadi rujukan bagi kepala daerah lain dalam merespons keterbatasan fiskal.
Lebih jauh, Efriza menilai keberhasilan program tersebut berpotensi mengangkat posisi Anwar Hafid ke panggung politik nasional, seiring dengan dukungan Partai Demokrat sebagai kendaraan politiknya.
“Selama ini program beasiswa identik dengan bantuan pusat seperti KIP. Apa yang dilakukan Anwar Hafid bisa menjadi pertimbangan penting bagi Demokrat bahwa mereka memiliki kader yang sukses menjalankan program daerah yang berdampak langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.

