Penulis : Anshar Aminullah
(Majelis Pemuda Indonesia DPP KNPI)

JIKA dahulu, konsep paradigma baru KNPI 2020, adalah sebuah gagasan brilian yang lahir dari KNPI Sulsel, lalu kemudian menjadi aturan baku dalam banyak hal di KNPI secara nasional.

Gagasan pemikiran yang dimulai dengan sebuah kalimat yang tegas tentang Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang sejak awal dimaksudkan sebagai wadah berhimpun organisasi kepemudaan, sebuah rumah besar yang mempersatukan dan merekatkan energi generasi muda Indonesia.

Di atas kertas, KNPI memikul tugas dan tanggung jawab strategis, yakni menjadi lokomotif pembangunan nasional sekaligus penjaga estafet masa depan bangsa.

Karena itu, secara ideal, pemuda dan lingkungan strategis yang mengitarinya semestinya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Namun ironinya, justru di era ketika persatuan dan konsolidasi menjadi kebutuhan yang paling urgen, rumah besar ini langganan bahkan nyaman terbelah oleh dinamika internal yang tidak sejalan dengan misinya yang justru harusnya menjadi perekat.

Di bagian lanjutan, dalam muqaddimah pemikiran ini menggambarkan bagaimana zaman ini sendiri telah berubah begitu cepat, tantangan yang semakin kompetitif, sementara peluang semakin selektif.

Dunia kini bergerak dalam pusaran globalisasi; sekat negara mengabur, batas sosial mencair, dan arus modal serta jasa melintas dengan kecepatan yang sulit dibayangkan beberapa dekade lalu.

Pola hubungan masyarakat pun mengglobal, menuntut setiap bangsa memiliki integritas nasional yang kuat dan kohesif.

Namun kembali menjadi ironi, di tengah kebutuhan akan soliditas itu, organisasi yang seharusnya mempersiapkan pemuda menghadapi dunia tanpa batas justru kerap dirundung batas-batas internal yang uniknya diciptakan oleh dia sendiri.

Pada akhirnya dapat kita saksikan sekarang ini, dimana KNPI seharusnya telah khatam, bahwa seluruh dinamika global ini hanya dapat dihadapi oleh kualitas kompetensi yang berdaya saing tinggi.

Kompetensi yang semestinya tumbuh dalam ekosistem kepemudaan yang solid, bukan dalam lanskap yang terpecah. KNPI seharusnya menjadi jawaban, bukan bagian dari ironi zaman.

Paradigma Baru KNPI 2020 justru menjadi titik klimaks menuju ‘sekarat’ di organisasi ini tepat dua tahun sebelum tiba di waktu berlakunya.

Dia hanya menjadi cerita lalu yang semacam ‘Ideologi’ distribusi kaum muda dan realitas gumpalan orang-orang yang berbondong-bondong berhimpun tanpa rekam jejak yang jelas organisasinya.

Ritual Simbolik, Institusi Yang Retak

Saya hendak mengajukan dua tesis sederhana, dua pertanyaan di mana keresahan ini muncul ketika kita menatap dinamika KNPI dalam 8 tahun terakhir, di tengah fragmentasi yang semakin menajam dengan berbagai versi kepengurusan yang saling mengklaim legitimasi, muncul serangkaian aktivitas seremonial, deklarasi, dan konsolidasi kecil yang justru terlihat kontras dengan realitas terbelah yang melanda rumah besar pemuda Indonesia ini.

Maraknya forum pertemuan, foto bersama, dan ritual simbolik seolah hendak menunjukkan keutuhan institusi, padahal kohesi sosialnya justru berada di kondisi yang cukup rapuh.

Tesis pertama, apakah fenomena saat ini sebagai tanda kebangkitan kesadaran kolektif pemuda, atau hanya sebatas “identity performance” dari elite masing-masing kubu yang ingin meneguhkan versi kepengurusannya?

Memang secara sosiologis, KNPI tampak mempertahankan citra sebagai pusat representasi pemuda, namun pada saat yang sama, dia justru gagal menyembunyikan kenyataan bahwa lembaga ini mengalami disintegrasi struktur dan legitimasi mengarah akut.

Tesis kedua, apakah aktivitas-aktivitas seremonial ini, hanya sekadar arena elite bargaining ruang tawar-menawar politik belaka, dimana  akses ke sumber daya, dan pencarian pengaruh yang ujung-ujungnya hanya memperpanjang usia fragmentasi institusionalnya?

Jika kita mencoba melihat dalam kacamata sosiologi organisasi, KNPI kini justru sedang berada pada fase dekolektivisasi, dimana energinya yang mesti dia gunakan untuk memperjuangkan agenda kepemudaan, justru terkuras habis dalam mempertahankan klaim internal berdasarkan versinya masing-masing.

Ironi di atas nostalgia

Ironi di atas semakin terasa, ketika saya membandingkan kondisi hari ini dengan pengalaman dua dekade lalu.

Salah satu ketua terpilih KNPI Sulsel beberapa hari lalu mungkin hanya berbagi kesamaan nama kami saja yang mirip, tetapi nasib kami jauh berbeda.

Di usia yang sama beliau sudah melangkah sebagai ketua terpilih, sementara saya di masa itu masih berjibaku kesana-kemari mencari peluang dalam waktu hanya lima jam sebelum pelantikan.

Sekadar untuk berjuang dan memastikan peluang masuk sebagai satu dari 86 nama dalam struktur pengurus, dari dua ribu lebih nama yang diajukan ke formatur.

Menjadi pengurus level anggota saja kadang-kadang harus dilalui dengan bernazar puasa sehari.

Pada awal dua ribuan, melalui regulasi Paradigma Baru 2020, pintu masuk ke struktur kepengurusan KNPI sangat ketat.

Hanya ada tiga jalur utama dengan pembagian kuota yang sangat ketat,
50 persen untuk OKP berhimpun,
20 persen untuk Jalur Potensi Pemuda yang betul-betul diseleksi atas prestasi dan kualitas mumpuni.

Kemudian 20 persen untuk Jalur Kesinambungan bagi pengurus lama yang dianggap masih layak meneruskan tradisi,
dan 10 persen sisanya untuk jalur potensi lainnya, tempat bagi anak-anak muda yang tidak sekadar menumpang nama besar orang tuanya, tetapi terbukti memberi warna bagi dinamika kepemudaan.

Di situasi seperti itu, bisa diprediksi betapa beratnya sekadar menembus posisi pengurus biasa.

Ikhtiar terakhir adalah menitip secarik kertas kecil berisi nama sendiri lalu mengambil jalur alternatif dengan bermodalkan wudhu dan tangan menengadah ke atas, semacam jalur langit, yakni satu-satunya ruang yang memungkinkan terjadinyan perubahan posisi dalam rapat formatur karena campur tangan Tuhan, tepat di beberapa jam sebelum pelantikan dirangkaikan penutupan musda.

Dua dekade lalu, jangankan mimpi menjadi calon ketua, masuk sebagai pengurus saja sudah menjadi pencapaian yang terasa seperti “mimpi yang sempurna”.

Bisa berjajar rapi dalam satu periode kepengurusan bersama pemuda-pemudi terbaik di Sulawesi Selatan atau di Kabupaten/ Kota adalah sebuah kebanggaan, dan itu menjadi bagian dari identitas sosial yang membentuk cara kami kala itu memaknai arti sebuah  kepemimpinan.

Kini, ketika KNPI terpecah menjadi banyak versi, pengalaman tadi seakan menjadi kaca pembanding, bagaimana sebuah institusi yang dulu menjadi simbol kohesi pemuda, kini justru terjebak dalam drama simbolik yang semakin menjauhkannya dari realitas sosial yang seharusnya ia perjuangkan.

Sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari dua klaim kemenangan ini, mari sejenak kita renungkan bagaimana dinamika hari ini, apakah benar-benar telah menjadi representasi kepentingan pemuda, atau hanya refleksi dari ironi sebuah organisasi yang kehilangan pusat gravitasi sosialnya.

Sulit menjawabnyan, terlebih saat melihat kenyataan bagaimana di Sulsel paradigma baru KNPI 2020 akhirnya berujung Paradia Baru-baru Dua Ribut, Dua Kubu.

Namun apapun itu, harus kita akui dan bahkan mungkin harus berterimah kasih. Sebab kedua figur ini telah berhasil mengembalikan nilai jual KNPI di Sulsel sebagai ruang berhimpun para elit pemuda.

Juga keduanya kembali menegaskan, bahwa ruang untuk menjadi top leader di KNPI, itu tidak cukup hanya dengan  bermodalkan gagasan, tapi dia  juga telah jadi atasan. Dan menjadi ketua di KNPI, tidak hanya cukup dengan punya poin-poin tapi juga harus tuntas di koin-koin. (*)