Rastranews.id, Bone – Di tengah padatnya agenda kunjungan kerja di Kabupaten Bone, sebuah momen sederhana namun sarat makna mencuri perhatian dan meninggalkan kesan mendalam.

Peristiwa itu terjadi di Mako Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel, saat prosesi penyerahan bantuan program bedah rumah berlangsung. Suasana yang awalnya khidmat mendadak berubah menjadi haru.

Kapolda Sulawesi Selatan, Djuhandhani Rahardjo Puro, menunjukkan gestur yang menyentuh hati. Saat menyerahkan kunci rumah secara simbolis kepada seorang nenek penerima bantuan, ia tidak hanya menjalankan tugas seremonial.

Dengan penuh hormat, jenderal bintang dua itu membungkukkan badan dan mencium tangan sang nenek.

Aksi tersebut seketika membuat suasana hening. Sang nenek tampak tak kuasa menahan haru, matanya berkaca-kaca. Bantuan yang diterima bukan sekadar menghadirkan hunian layak, tetapi juga menghadirkan rasa dihargai dan dimanusiakan.

Gestur itu menjadi simbol kuat tentang nilai kemanusiaan—penghormatan kepada orang tua, empati kepada sesama, serta kerendahan hati seorang pemimpin di hadapan rakyatnya.

Di hadapan personel dan tamu undangan, momen tersebut seolah berbicara lebih lantang daripada pidato panjang. Apa yang ditunjukkan Djuhandhani Rahardjo Puro mencerminkan nilai luhur budaya Bugis: sipakatau, sipakalebbi, sipakainge—saling memanusiakan, saling menghormati, dan saling mengingatkan.

Tindakan itu menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu hadir dalam kebijakan besar, tetapi justru tampak dalam sikap tulus yang menyentuh hati.

Lebih jauh, momen tersebut juga menegaskan kehadiran Polri sebagai institusi yang tidak hanya berperan menjaga keamanan, tetapi juga mengedepankan sisi kemanusiaan sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.

Diketahui, program bedah rumah yang dilaksanakan Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel ini diberikan kepada keluarga Kakek Fence, seorang pengumpul plastik dan botol bekas di Kelurahan Majang, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone.

Sebelumnya, keluarga tersebut tinggal di rumah yang kurang layak huni di lorong sempit. Proses pembangunan rumah baru berlangsung selama kurang lebih 19 hari, dikerjakan secara gotong royong oleh personel Brimob sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat.

Potret tersebut menjadi bukti bahwa kehadiran negara, melalui aparatnya, dapat terasa begitu dekat—tidak berjarak, membumi, dan penuh kasih.