RastraNews.id, Makassar — Perayaan Cap Go Meh 2026 di Kota Makassar yang digelar DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Sulsel dan Vihara Girinaga, bekerja sama Event Organizer Mister Green Production dipastikan akan berlangsung berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Selain sarat nuansa budaya, perayaan malam ke-15 Imlek tersebut akan dikolaborasikan dengan kegiatan Ramadhan, mulai dari bakti sosial, buka puasa bersama, hingga tausiyah keagamaan.
Hal itu disampaikan Ketua Panitia Cap Go Meh 2026, Roy Ruslim, usai audiensi dengan Wali Kota Makassar di Kantor Balai Kota, Senin (19/1/2026).
Roy mengatakan, audiensi tersebut dilakukan untuk mengundang Wali Kota Makassar agar berkenan menghadiri, membuka, sekaligus memberikan sambutan pada puncak perayaan Cap Go Meh yang akan digelar pada Selasa, 3 Maret 2026, di Jalan Sulawesi, Makassar.
“Dalam rangka mengundang Pak Wali untuk hadir, membuka, dan memberikan sambutan pada acara Cap Go Meh 2026,” ujar Roy.
Roy menjelaskan, rangkaian kegiatan akan dimulai sejak sore hari dengan bakti sosial kepada warga sekitar, dilanjutkan buka puasa bersama, serta ceramah keagamaan yang disesuaikan dengan suasana Ramadhan.
Setelah itu, barulah perayaan Cap Go Meh digelar pada malam hari. “Ini bentuk kolaborasi dan kebersamaan, karena tahun ini Cap Go Meh bertepatan dengan bulan Ramadhan,” jelasnya.
Dalam perayaan tersebut, panitia menargetkan sekitar 108 pelaku UMKM untuk mengisi stan yang telah disiapkan.
Beragam hiburan juga akan memeriahkan acara, mulai dari penampilan artis lokal, pesta kembang api, tarian empat etnik, Barongsai, Naga, hingga tarian klasik Tionghoa.
Namun demikian, untuk tahun ini panitia memutuskan meniadakan arak-arakan seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Arak-arakan sementara kita absenkan dulu karena persiapannya cukup panjang dan melibatkan banyak vihara. Mungkin bisa kembali digelar di tahun-tahun mendatang,” ungkap Roy.
Sementara itu, Founder Event Organizer Mister Green Production, Rosmini Hamid, menegaskan bahwa Cap Go Meh 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ajang kolaborasi lintas budaya dan kepedulian sosial.
“Cap Go Meh ini adalah perayaan budaya, bukan ritual agama. Tahun ini kita kolaborasikan dengan Ramadhan melalui buka puasa bersama dan tausiyah,” jelasnya.
Rosmini menyebut, UMKM yang terlibat tahun ini mencapai lebih dari 100 UMKM, ditambah puluhan stan dari perwakilan Walubi.
Panitia juga mendukung program pemerintah terkait Eco Green, dengan penggunaan wadah makanan ramah lingkungan dan pemilahan sampah basah serta kering.
Dari sisi hiburan, panitia memilih untuk menampilkan musisi dan seniman lokal, sebagai bentuk empati terhadap musibah bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.
“Kita beri panggung bagi musisi lokal seperti Ashari Sitaba, Ati Kodong, hingga talenta lokal lainnya. Konsepnya benar-benar kolaborasi Nusantara,” katanya.
Salah satu atraksi yang menjadi sorotan adalah kolaborasi unik tabuh beduk dan tabuh genderang Barongsai yang akan ditampilkan saat pembukaan acara.
Untuk lokasi kegiatan, panitia memusatkan perayaan di Jalan Sulawesi, dari Jalan Riburane hingga Jalan Timor, dengan pertimbangan kenyamanan umat Muslim yang menjalankan ibadah Ramadhan.
Perayaan Cap Go Meh 2026 ini diharapkan menjadi simbol toleransi, kebersamaan, dan harmoni lintas budaya di Kota Makassar. (*)

