Hal itu terlihat dari tiga indikator utama kualitas lingkungan, yakni kualitas tanah, air, dan udara yang saling mendukung dalam menjaga produksi pangan.
Kabupaten Bone memiliki luas lahan persawahan mencapai 88.449 hektare, namun sebagian lahan berpotensi mengalami penurunan kesuburan dan rendahnya kandungan C-organik.
Program Proklim mendorong petani mengolah limbah pertanian menjadi kompos dan pupuk organik, yang terbukti meningkatkan kesuburan tanah dan menjaga produktivitas jangka panjang.
Pada aspek kualitas air, Proklim berperan dalam menjaga Indeks Kualitas Air (IKA) melalui konservasi air seperti panen air hujan dan penanaman vegetasi pelindung sumber mata air agar irigasi tetap stabil dan aman bagi pertanian.
Sementara dari aspek kualitas udara, Indeks Kualitas Udara (IKU) Kabupaten Bone berada pada angka 84,5 poin, ditopang aksi mitigasi seperti pengurangan pembakaran lahan dan pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya yang menjaga kesehatan ekosistem dan mengurangi risiko hama tanaman.
Bupati Bone Asman Sulaiman menyampaikan bahwa apresiasi nasional ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh masyarakat Bone, terutama desa-desa yang giat menjalankan aksi iklim melalui Program Kampung Iklim.
Menurutnya, lingkungan yang sehat adalah fondasi utama kesejahteraan dan ketahanan pangan daerah.
“Proklim adalah investasi masa depan. Dengan lingkungan yang terjaga, Bone bukan hanya menjadi daerah tangguh menghadapi perubahan iklim, tetapi juga penyangga utama kebutuhan pangan nasional,” ujar Bupati Asman Sulaiman, Jumat (28/11/2025).
Ia berharap penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh daerah di Indonesia Timur untuk membuktikan bahwa pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Bone berkomitmen memperluas implementasi Proklim sebagai gerakan kolektif menuju ketahanan pangan berkelanjutan. (MA)


