RastraNews.id, Makassar – Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XVIII Sulawesi Selatan 2026 diposisikan bukan sekadar arena perebutan medali antarkabupaten dan kota.

KONI Sulsel menjadikan ajang yang akan berlangsung di Bone dan Wajo itu sebagai salah satu tahapan penting untuk menemukan atlet potensial yang dapat diproyeksikan menuju kompetisi nasional, termasuk Pra-PON hingga PON 2028.

Hal tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi persiapan PORPROV XVIII di Kantor KONI Sulsel, Rabu (16/9/2026).

Ketua KONI Sulsel Darmawangsyah Muin menegaskan, kompetisi tingkat provinsi harus memiliki dampak lebih panjang terhadap pembinaan atlet.

“PORPROV bukan sekadar ajang rutin, tetapi menjadi instrumen penting untuk menjaring talenta juara yang akan kita bina secara berjenjang menuju Pra-PON hingga PON 2028,” ujar Darmawangsyah.

Target tersebut membuat pelaksanaan PORPROV XVIII tidak hanya berkaitan dengan kesiapan pertandingan. Venue, akomodasi atlet, technical delegate, pendanaan cabang olahraga hingga mekanisme keabsahan peserta turut menjadi perhatian.

Dalam rapat tersebut, sebanyak 45 Technical Delegate (TD) cabang olahraga hadir bersama unsur KONI Sulsel, Dispora Sulsel, KONI dan Dispora Bone serta KONI dan Dispora Wajo.

Dua daerah tersebut juga mulai menampilkan identitas masing-masing melalui maskot PORPROV XVIII.

Bone memperkenalkan Dama, karakter yang mengangkat filosofi dan identitas budaya Bugis-Bone.

Dama tampil dengan songkok recca, jas tutup, lipa’ sabbe dan badik. Filosofinya membawa nilai siri’ na pacce, kejujuran, keberanian, keteguhan serta kecerdasan.

Sementara Wajo menghadirkan Si Gabus, karakter ikan yang terinspirasi dari Danau Tempe.

Si Gabus digambarkan sebagai atlet yang membawa obor PORPROV. Motif Sutra Sengkang pada busananya menjadi penanda identitas daerah.

Kedua maskot tersebut menunjukkan bahwa PORPROV XVIII tidak hanya dirancang sebagai kompetisi olahraga, tetapi juga sebagai panggung yang membawa karakter dan identitas daerah tuan rumah.

Di sisi lain, Ketua KONI Sulsel berharap proses pembinaan tidak berhenti setelah PORPROV berakhir.

Atlet yang menunjukkan performa menonjol diharapkan dapat masuk dalam proses pembinaan lebih lanjut sehingga memiliki jalur menuju kompetisi dengan level yang lebih tinggi.

Rangkaian persiapan PORPROV XVIII kini terus dimatangkan. Pemerintah daerah, KONI, technical delegate dan seluruh unsur terkait didorong bekerja dalam satu koordinasi agar kompetisi berjalan sesuai target.

Dengan demikian, PORPROV XVIII di Bone dan Wajo diharapkan bukan hanya menghasilkan juara baru di tingkat Sulsel, tetapi juga menjadi salah satu titik awal bagi lahirnya atlet yang kelak membawa nama Sulawesi Selatan di panggung nasional.