RastraNews.id, Makassar — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi merilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025. Dalam hasil tersebut, Kota Makassar mencatat skor 4,17, tertinggi di Sulawesi Selatan dan melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 3,50 serta skor Provinsi Sulawesi Selatan 3,71.

Capaian ini menegaskan posisi Makassar sebagai pusat pertumbuhan dan lokomotif ekonomi di kawasan timur Indonesia. Di tengah dinamika ekonomi dan percepatan transformasi digital, Makassar dinilai mampu memperkuat fondasi daya saingnya secara struktural.

Direktur Profetik Institute, Muhammad Asratillah, menyebut skor 4,17 sebagai capaian yang patut diapresiasi sekaligus membanggakan. “Saya melihat hasil IDSD 2025 yang menempatkan Kota Makassar dengan skor 4,17 sebagai capaian yang patut diapresiasi. Skor ini bukan hanya lebih tinggi dari rata-rata nasional, tetapi juga melampaui skor Provinsi Sulawesi Selatan,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, hasil tersebut menjawab berbagai keraguan terhadap performa pembangunan kota. Makassar dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi, memperluas ukuran pasar, serta mengakselerasi adopsi teknologi informasi sebagai pendorong utama daya saing daerah.

Sebagai kota metropolitan, Makassar memiliki konsentrasi aktivitas ekonomi, lembaga pendidikan, layanan keuangan, dan infrastruktur yang lebih lengkap dibandingkan sebagian besar kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Tidak mengherankan jika indeks daya saingnya berada di atas rata-rata provinsi maupun nasional.

Meski demikian, Asratillah mengingatkan agar capaian tersebut dipahami secara proporsional. Menurutnya, indeks daya saing pada dasarnya mengukur kapasitas struktural suatu daerah untuk tumbuh, bukan secara otomatis mencerminkan kualitas hidup warga.

“Kota besar hampir selalu memiliki skor lebih tinggi karena ukuran ekonomi dan akses teknologinya lebih kuat. Karena itu, keberhasilan Makassar dalam IDSD tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa semua persoalan kota sudah terselesaikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, Makassar memang unggul pada pilar adopsi teknologi informasi dan ukuran pasar yang bahkan mencapai skor maksimal. Hal ini menunjukkan ekonomi kota bergerak cepat dengan aktivitas bisnis yang dinamis.

Namun, ia menekankan agar Pemerintah Kota Makassar tidak terlena dengan capaian tersebut. Indeks, kata dia, seharusnya menjadi peta jalan untuk memperkuat kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat.

“Yang lebih penting dari angka indeks adalah apakah warga merasakan perubahan nyata dalam pelayanan publik,” ujarnya.

Ke depan, ia mendorong penguatan infrastruktur dasar perkotaan seperti transportasi, drainase, dan layanan lingkungan; perbaikan ekosistem usaha agar UMKM dan startup lebih berkembang; serta memastikan transformasi digital benar-benar meningkatkan kualitas pelayanan publik.

“Jika itu dilakukan, Makassar tidak hanya unggul dalam angka indeks, tetapi benar-benar menjadi kota yang daya saingnya terasa dalam kehidupan sehari-hari warganya,” pungkasnya. (rls/mu)