Rastranews.id, Makassar — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mengungkap sumber air minum utama penduduk Sulsel masih didominasi air isi ulang.
Data Indikator Perumahan dan Kesehatan Lingkungan 2025 mencatat, 41,52 persen penduduk Sulawesi Selatan mengandalkan air isi ulang sebagai sumber air minum sehari-hari.
Sumber air minum terbanyak berikutnya berasal dari sumur bor atau pompa sebesar 19,29 persen, disusul air ledeng yang baru menjangkau 13,49 persen penduduk.
Sementara itu, sumur terlindung digunakan oleh 10,82 persen penduduk, mata air terlindung sebesar 7,44 persen, dan sumber lainnya juga 7,44 persen.
BPS menekankan, penyediaan air minum layak dan sanitasi yang baik memiliki dampak langsung terhadap risiko kesehatan masyarakat.
Kualitas air yang buruk, sanitasi tidak layak, serta praktik higienis yang rendah menjadi penyebab utama penyakit infeksi yang ditularkan melalui kotoran manusia atau Faecally-Transmitted Infections (FTIs), seperti diare dan kolera.
Berdasarkan data UNICEF (2016), penyakit tersebut menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak usia di bawah lima tahun.
Bahkan, risiko stunting pada anak juga meningkat akibat paparan FTIs secara berulang.
Karena itu, penyediaan air minum aman, sanitasi layak, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dinilai sebagai intervensi sensitif dalam upaya menurunkan angka kekurangan gizi dan stunting, sebagaimana ditegaskan dalam penelitian Cumming & Cairncross (2016).
BPS Sulsel menilai, memastikan akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan pengelolaan sanitasi yang baik menjadi langkah krusial untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus menekan angka kesakitan dan kematian anak di Sulawesi Selatan.
Data ini dikutip Rastranews.id dari unggahan resmi Instagram BPS Sulsel, Selasa (23/12/2025). (MU)

