Selain digitalisasi pembayaran, Perumda Pasar Makassar juga menjalankan lima strategi optimisasi pendapatan, yakni:

1. Digitalisasi jasa pengelolaan pasar melalui e-payment.
2. Audit dan penataan ulang data pedagang.
3. Peningkatan fasilitas dan infrastruktur pasar.
4. Monitoring keuangan real time dengan dashboard digital.
5. Peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan literasi digital.

Dampaknya terasa nyata: sistem keuangan pasar kini lebih efisien, akurat, dan bebas dari praktik tunai yang rawan kebocoran.

Deputi Kepala Perwakilan Kantor BI Malang, Siti Nurfalinda, mengungkapkan kekagumannya terhadap inovasi yang dijalankan Perumda Pasar Makassar.

Menurutnya, apa yang dilakukan Makassar bisa menjadi model pengelolaan pasar di daerah lain.

“Kami sengaja membawa tujuh kabupaten-kota dalam wilayah kerja kami ke Makassar karena ingin belajar langsung. Ternyata apa yang kami temukan di sini jauh melampaui ekspektasi,” ungkapnya.

Ia menyoroti penggunaan barcode untuk memantau pembayaran retribusi pasar sebagai hal yang sangat efektif.

“Hanya dengan satu barcode, bisa diketahui siapa yang sudah membayar, siapa yang menunggak, bahkan ke mana aliran pembayaran itu. Ini meminimalisir kebocoran dan meningkatkan kepercayaan publik,” jelasnya.

Menurut Siti, sistem pembayaran ganda—tunai dan non-tunai—yang diterapkan Perumda Pasar Makassar juga merupakan langkah bijak dalam mendorong perubahan perilaku pedagang secara bertahap menuju ekosistem digital.

“Transformasi memang butuh waktu, tapi cara Makassar melakukannya sangat edukatif. Ini bukan sekadar penerapan teknologi, tapi juga pembelajaran sosial,” tambahnya.

Kegiatan Studi Tiru ini merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia untuk mendorong modernisasi pasar tradisional di seluruh Indonesia.

Melalui pembelajaran langsung dari Makassar—daerah yang berturut-turut meraih peringkat pertama pengelolaan pasar terbaik di wilayah timur diharapkan semangat transformasi digital dapat menular ke berbagai daerah lain. (MA)