RastraNews.id, Makassar – Banjir tahunan yang kerap melanda sejumlah wilayah di Kota Makassar mulai menunjukkan tren penurunan dampak.

Pemerintah Kota Makassar mencatat, dari tiga kecamatan yang selama ini menjadi langganan banjir, kali ini hanya satu wilayah yang sempat melakukan pengungsian, itupun dalam durasi yang relatif singkat.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), menyampaikan bahwa kondisi tersebut menjadi indikator awal adanya perbaikan dalam penanganan banjir, meski Makassar masih berada dalam periode cuaca ekstrem.

Hal itu disampaikan Munafri saat menjadi narasumber dalam siaran pagi Jurnal Nusantara Kompas TV, yang terhubung langsung dari Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Rabu (14/1/2026).

“Dari lima posko pengungsian yang sempat dibuka, saat ini tersisa dua posko dengan sekitar 50 kepala keluarga. Ini menunjukkan situasi sudah jauh lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Appi.

Ia menjelaskan, persoalan banjir di Makassar tidak bisa dilepaskan dari faktor geografis. Sejumlah wilayah rawan genangan berada di kawasan cekungan dan bantaran sungai, sehingga air mudah tertahan saat curah hujan tinggi.

Kondisi tersebut diperparah dengan intensitas hujan ekstrem yang, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Februari 2026.

Meski demikian, Appi menegaskan bahwa penyebab warga harus mengungsi bukan semata karena ketinggian air, melainkan akibat terganggunya sistem sanitasi rumah tangga.

Terendamnya toilet dan saluran limbah membuat sebagian warga terpaksa meninggalkan rumah sementara waktu.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kota Makassar tengah melakukan kajian teknis berbasis ilmiah, khususnya terkait perbaikan sistem aliran air agar tidak terjebak di kawasan permukiman rawan banjir.

“Kami sedang melakukan kajian bersama sejumlah perguruan tinggi dan berkoordinasi dengan balai yang menangani sungai di Makassar.

Tujuannya menentukan alur air yang lebih tepat agar genangan tidak berulang,” jelasnya.

Di tengah kondisi cuaca ekstrem, Appi juga meningkatkan status kesiapsiagaan pemerintah daerah.

Ia meminta seluruh perangkat daerah terkait, mulai dari BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, hingga Dinas Sosial, untuk bersiaga penuh.

“Kami memastikan shelter, logistik, dan kebutuhan dasar warga siap jika terjadi kondisi darurat,” tegas Appi.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi dampak lanjutan cuaca ekstrem, seperti angin kencang, pohon tumbang, serta gelombang tinggi di wilayah pesisir.

Appi berharap, melalui kajian teknis dan pendekatan ilmiah, sistem drainase dan tata kelola air di Kota Makassar dapat diperbaiki secara menyeluruh, khususnya di wilayah yang selama ini menjadi titik rawan banjir tahunan. (MU)